Gokil! Ratusan Siswa SMAN 1 Cimahi Kompak Garap Drama Musikal Sekelas Produksi Film di Festival Sachi

Penampilan salah satu adegan drama musikal Festival Sachi di SMAN 1 Cimahi yang mengangkat tema sejarah kemerd
Penampilan salah satu adegan drama musikal Festival Sachi di SMAN 1 Cimahi yang mengangkat tema sejarah kemerdekaan Indonesia (Mong)
0 Komentar

Menariknya, konsultasi tak hanya dilakukan saat jam pelajaran berlangsung, tetapi juga di luar sekolah demi memastikan setiap penampilan matang maksimal.

“Dalam proses mereka pertunjukannya setiap minggu, kami selalu masuk ke kelas di jam mata pelajaran kami sendiri untuk memantau hasil latihan mereka, sudah sampai mana progresnya,” bebernya.

Sejak awal semester Januari 2026, para siswa ternyata sudah “digodog” untuk menyambut proyek drama musikal di sekolah. Annisa menyebut, informasi soal kegiatan itu sengaja diberikan lebih awal agar anak-anak punya waktu mempersiapkan diri, mulai dari konsep penampilan hingga kebutuhan pendukung lainnya. Dengan begitu, proses latihan berjalan lebih matang dan penuh antusiasme dari para siswa.

Baca Juga:Pengantin Pria di Garut Diciduk Polisi Usai Akad, Diduga Pelaku Curanmor di IbunBLF MC Resmi Go Digital, Komunitas Moge Ini Siap Naik Kelas Secara Profesional

Memasuki semester dua, suasana sekolah mulai terasa berbeda. Tim penyelenggara bergerak lewat roadshow ke setiap kelas untuk mengenalkan sistem penilaian, jadwal latihan, publikasi, penampilan hingga gladi. Semuanya disusun sejak awal agar para siswa bisa lebih siap tanpa harus pusing dengan jadwal yang saling bertabrakan. Ritmenya dibuat rapi, tapi tetap terasa seru buat diikuti.

Selama lima bulan terakhir, latihan rutin drama musikal itu bukan cuma soal menghafal gerakan dan dialog. Bagi Annisa, tantangan terbesar justru datang dari proses menyatukan ratusan siswa kelas 11 dengan karakter yang berbeda-beda. Koordinasi antara guru dan para murid Gen Z pun jadi pengalaman tersendiri.

“Ini sekaligus pembelajaran buat kami semua,” ujarnya sambil tersenyum manis.

Di tengah karakter Gen Z yang dikenal lebih ekspresif dan penuh ide segar, para pendidik dituntut beradaptasi dengan pola pikir yang terus berubah. Mereka hadir dengan ambisi besar, ego yang kuat, serta keberanian menyuarakan pendapat.

Namun di balik kreativitas itu, tak jarang muncul sikap yang melampaui batas aturan hingga menjadi tantangan tersendiri bagi lingkungan pendidikan.

“Itu yang harus kami pause, yang harus kami tahan. Itu yang kadang belum sampai di logikanya mereka,” kata Annisa.

Menurut Annisa, pendekatan komunikasi menjadi kunci utama dalam mendampingi para siswa di lingkungan sekolah. Dengan koordinasi yang berjalan baik antara guru dan peserta didik, suasana pembinaan pun terasa lebih nyaman dan terbuka.

0 Komentar