“Untuk di pelajaran saya, di Seni Budaya sendiri, lebih ke artistiknya sudah pasti. Di masalah musiknya, masalah nyanyiannya, tariannya, tata riasnya mereka, dan juga mereka kalau tadi mendengarkan di akhir ada lagu yang mungkin tidak familier, itu adalah lagu ciptaan mereka,” kata dia.
Suasana sekolah mendadak hangat ketika para siswa diwajibkan menyanyikan lagu original soundtrack kelas mereka sendiri. Lagu berjudul Teman Sejati itu menggema di setiap sudut ruangan, dibawakan bergantian dengan nada sederhana namun penuh makna.
Bukan sekadar tugas sekolah, lagu tersebut menjadi ruang kecil bagi para siswa untuk merawat kebersamaan, persahabatan, dan kenangan masa belajar mereka.
Baca Juga:Pengantin Pria di Garut Diciduk Polisi Usai Akad, Diduga Pelaku Curanmor di IbunBLF MC Resmi Go Digital, Komunitas Moge Ini Siap Naik Kelas Secara Profesional
“Dan satu lagi, di pelajaran Pendidikan Kewirausahaan dan Prakarya (PKWU) itu khusus ke propertinya. Jadi, tadi ada beberapa properti yang mungkin tadi bisa dilihat juga, itu adalah hasil karya mereka,” imbuhnya.
Annisa menjelaskan, proyek tersebut ke depan akan berpengaruh pada nilai rapor siswa. Selain itu, proyek ini juga masuk dalam penilaian projek kokurikuler yang lebih menitikberatkan pada sikap siswa. Dengan begitu, hasil kerja mereka tidak hanya dinilai dari capaian akademik, tetapi juga dari proses dan pembentukan karakter selama mengikuti kegiatan.
“Apakah mereka bisa bekerja sama, mereka mandiri, mereka tanggung jawab, nanti kami nilai di situnya juga. Apakah selama proses ini mereka bisa apa namanya, bekerja sama dengan temannya atau tidak, nanti dilihat di situnya juga,” terangnya.
Penilaian sikap siswa di sekolah tidak diputuskan secara sepihak. Guru BK, Annisa, menjelaskan setiap guru mata pelajaran terlebih dahulu memberikan catatan penilaian sesuai pengamatan selama proses belajar berlangsung. Setelah itu, seluruh guru berkumpul untuk mendiskusikan hasilnya bersama sebelum menentukan nilai sikap akhir siswa.
Menurut dia, mekanisme tersebut dilakukan agar penilaian lebih objektif dan tidak hanya berdasarkan satu sudut pandang.
“Jadi, untuk nilai pelajaran ada sendiri dan nilai kokurikuler untuk sikapnya juga kami punya nanti sendiri, di akhirnya kami akan berkumpul untuk menilai itu,” ujar dia.
Kekompakan siswa kelas XI ternyata dibangun lewat proses yang tidak instan. Annisa menjelaskan, tiap kelas menjalani latihan secara mandiri dengan progres berbeda-beda. Meski begitu, para siswa tetap mendapat tenggat bimbingan dari guru pendamping.
