Interaksi di lingkungan sekolah kian terasa hidup. Para siswa disebut menjadi lebih bersemangat dan ambisius dalam belajar, bahkan tak jarang terlibat obrolan ringan hingga “senggol-senggolan” dengan teman maupun guru.
Namun, suasana dinamis itu justru menghadirkan motivasi tersendiri yang membuat proses belajar mengajar terasa lebih hangat dan penuh energi positif.
“Ternyata anak-anak itu mereka kalau diberikan reward, mereka diberikan tantangan tuh anak zaman sekarang masih mau, dan masih berani untuk menerima tantangan,” cetusnya dengan bangga dan haru
Baca Juga:Pengantin Pria di Garut Diciduk Polisi Usai Akad, Diduga Pelaku Curanmor di IbunBLF MC Resmi Go Digital, Komunitas Moge Ini Siap Naik Kelas Secara Profesional
Annisa menjelaskan, pencatatan di rapor tetap masuk kategori akademik. Terkait KKM, ia menyebut tidak lagi bersifat kaku seperti dulu. Penentuan KKM kini lebih fleksibel karena diserahkan kembali kepada guru mata pelajaran, menyesuaikan karakter dan capaian belajar siswa di masing-masing kelas.
“Karena di Kurikulum Merdeka seperti itu. Jadi nanti lulus atau tidaknya setiap guru akan punya kriterianya sendiri untuk kelulusannya,” jelasnya.
Guru mata pelajaran, lanjut Annisa menegaskan bahwa kelulusan siswa tidak ditentukan hanya dari hasil satu hari penilaian.
“Ya, guru mata pelajarannya, karena kami bukan hanya menilai dari hasil hari ini saja,” ujarnya.
Penilaian dilakukan secara menyeluruh, mencakup proses belajar, sikap, dan perkembangan siswa selama mengikuti pembelajaran di kelas.
“Tapi kami menilai dari proses lima bulan ke belakang sebelumnya,” kata Annisa menutup. (Mong)
