JABAR EKSPRES – Kirab Budaya Mahkota Binokasih berlangsung meriah di Kota Bogor pada Jumat (8/5/2026) malam. Ribuan warga memadati sepanjang jalur kirab untuk menyaksikan arak-arakan budaya yang dimulai dari Museum Pajajaran Bumi Ageung Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan hingga kawasan Lawang Suryakencana, Kecamatan Bogor Tengah.
Kirab dimulai sekitar pukul 20.00 WIB dan berakhir pada Sabtu (9/5/2026) sekitar pukul 00.30 WIB setelah menempuh rute sepanjang 3,2 kilometer.
Penampilan kesenian tradisional dan tarian daerah turut memeriahkan kirab tersebut. Sedikitnya terdapat perwakilan budaya dari 27 kota dan kabupaten di Jawa Barat, 5 penampilam tari dari luar Jawa Barat, serta 14 kampung adat yang ikut ambil bagian dalam rangkaian acara.
Baca Juga:Kebijakan WFH ASN Bawa Efisiensi Energi 44 Persen di Kabupaten BogorRibuan Pelari dari 44 Negara Ramaikan Red Dress Run, Sport Tourism Jateng Kian Mendunia
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengatakan Kirab Budaya Mahkota Binokasih bukan sekadar arak-arakan budaya, melainkan simbol menghidupkan kembali nilai-nilai kesundaan dan warisan Pakuan Pajajaran di masa sekarang.
Dedi menyebut, Mahkota Binokasih merupakan mahkota Raja Pakuan Pajajaran peninggalan Prabu Siliwangi yang dibuat pada masa Prabu Niskalawastu Kancana setelah peristiwa gugurnya Lingga Buana.
Mahkota Binokasih itu pun memiliki makna untuk mengembalikan nilai-nilai kesundaan dan jati diri masyarakat Sunda.
“Semangat Mahkota Binokasih itu untuk mengembalikan kesundaan. Pertama, mengembalikan tanahnya. Kedua, mengembalikan air dan alamnya. Ketiga, mengembalikan jati diri manusianya supaya tidak kehilangan jati diri,” kata Dedi dalam sambutannya di Lawang Suryakencana, Kota Bogor, Jumat (8/5) tengah malam.
Ia bahkan mengaku merasakan suasana haru saat menyambut Mahkota Binokasih di kawasan Batutulis, Bogor Selatan sebelum perjalanan kirab dimulai, karena mengingat perjalanan panjang Kerajaan Pajajaran yang berakhir ratusan tahun lalu.
“Tadi saya berdiri di Batutulis saat gerimis menyambut Mahkota Binokasih. Saya merasa sedih. Sedih karena perjalanan Pajajaran berakhir dengan kesedihan ratusan tahun lalu,” ujarnya.
Namun menurutnya, kirab budaya tersebut juga menjadi simbol kebangkitan sekaligus pengingat bagi para pemimpin agar menjalankan pembangunan dengan berpegang pada nilai-nilai leluhur Sunda dan kepedulian terhadap masyarakat.
Baca Juga:Harga Solar Industri Naik, Gubernur Jateng Kawal Aspirasi Nelayan ke Pemerintah PusatPemkab Bandung Matangkan Sistem Peringatan Dini Banjir, Warga Rawan Banjir Disiapkan Lebih Siaga
“Tapi sekarang waktunya kembali bangkit. Perjalanan Binokasih harus jadi perjalanan pembangunan yang penuh kasih sayang. Menolong yang membutuhkan, membantu yang kesusahan, menerangi yang gelap,” ungkapnya.
