PAGI baru bergerak pelan di Gang Rajawali, Meruya Selatan, Jakarta Barat, ketika ibu-ibu mulai berkumpul membawa ember kecil dan senyum yang hangat. Di sela dinding rumah yang berdempetan dan lorong yang tak terlalu lebar, bibit cabai dan terong berpindah tangan. Ada tanah, ada komposter, ada percakapan tentang sampah rumah tangga yang selama ini dianggap selesai ketika dibuang ke belakang rumah.
Kamis, 7 Mei 2026, gang kecil itu mendadak berubah menjadi ruang belajar tentang masa depan kota.
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mercu Buana bekerja sama dengan Universiti Malaysia Terengganu (UMT) menggelar kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) internasional bertajuk Sustainable Urban Living Through Green Alley: A Management and Marketing Perspective. Program itu menjadi upaya memperkenalkan konsep gang hijau dan ekonomi sirkular kepada masyarakat perkotaan.
Baca Juga:Jalur Langit untuk Persib, Viking Frontline Berbagi Makanan Sambil Menitipkan Doa1.305 Rekomendasi Bermasalah, Indikator Kinerja Menteri PU Disorot
Di tengah Jakarta yang terus tumbuh dengan beton dan kendaraan, gagasan tentang “gang hijau” terasa seperti jeda yang menenangkan.
Warga Gang Rajawali diajak melihat bahwa lorong sempit tak selalu identik dengan kumuh. Gang bisa menjadi ruang hidup yang produktif, tempat sampah organik diolah kembali, tempat tanaman tumbuh di depan rumah, dan tempat warga membangun hubungan sosial lewat lingkungan yang lebih sehat.
Kegiatan itu dihadiri Camat Kembangan, Lurah Meruya Selatan, pimpinan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mercu Buana, serta delegasi akademisi dari Universiti Malaysia Terengganu, termasuk Assoc. Prof. Dr. Zikri bin Muhammad.
Kehadiran para akademisi dari dua negara itu menghadirkan suasana berbeda di tengah perkampungan padat Jakarta Barat. Mereka tidak datang membawa teori yang rumit. Yang dibawa justru gagasan sederhana: kota yang sehat dimulai dari lorong kecil tempat warga tinggal.
Dalam kegiatan tersebut, warga menerima bantuan bibit tanaman cabai dan terong serta alat komposter untuk mengelola sampah organik rumah tangga menjadi pupuk.
Bagi sebagian warga, itu mungkin tampak sederhana. Tetapi di balik bibit kecil dan komposter itu tersimpan pesan besar tentang cara baru memandang lingkungan perkotaan.
Salah satu materi utama disampaikan Dr. Devy Mawarnie Puspitasari dari FEB Universitas Mercu Buana dengan tema Strengthening Sustainable Financial Literacy and Circular Financing Schemes in Urban Alley Revitalization Programs. Ia menjelaskan pentingnya literasi keuangan berkelanjutan dan penerapan ekonomi sirkular dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kota.
