Limbah Minyak Jelantah Ditemukan Dibuang ke Danau Situ Gede, Dedie: Manfaatnya Apa? Padahal Bisa Dijual 

Limbah Minyak Jelantah Ditemukan Dibuang ke Danau Situ Gede, Dedie: Manfaatnya Apa? Padahal Bisa Dijual 
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, saat memberikan keterangannya di kawasan Danau Situ Gede, Cifor, Kota Bogor pada Jumat (8/5/2026). Foto: Sekar Andini
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kegiatan bersih-bersih lingkungan atau kurvey di kawasan Danau Situ Gede, Cifor, Kota Bogor pada Jumat (8/5/2026) turut menyoroti persoalan limbah, khususnya minyak jelantah yang masih ditemukan dibuang sembarangan ke perairan dan lingkungan sekitar.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengatakan, masih ditemukannya limbah minyak di kawasan Danau Situ Gede menunjukkan perlunya penguatan edukasi kepada masyarakat terkait pengelolaan limbah rumah tangga.

Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Bogor telah menjalankan kebijakan pengelolaan sampah dari hulu ke hilir, yakni dengan mendorong pengelolaan sampah dan limbah sejak dari sumbernya atau tingkat rumah tangga hingga ke tahap akhir pengolahan di fasilitas pengelolaan sampah.

Baca Juga:Gelar Kurvey di Situ Gede Bogor, Kemendagri Dorong Perubahan Perilaku Jaga LingkunganDishub Kota Bogor Siapkan Kantong Parkir dan Turunkan 150 Personel untuk Kirab Budaya Mahkota Binokasih

Salah satu penerapan pengelolaan dari hulu tersebut dilakukan melalui pemanfaatan limbah yang masih memiliki nilai ekonomi, seperti minyak jelantah.

Limbah tersebut dapat dikumpulkan dan dijual oleh masyarakat kepada kelompok-kelompok penampung yang telah disiapkan.

“Kalau tadi ada minyak, saya pikir ini mungkin belum tersosialisasi bahwa jelantah itu bisa kami beli loh. Pemilahan atau arah kebijakan Pemerintah Kota Bogor dalam penanganan persampahan kan sudah dari hulu ke hilir,” kata Dedie di Situ Gede, Jumat (8/5).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa mekanisme pengumpulan limbah jelantah melalui kelompok masyarakat telah berjalan di Kota Bogor, di mana kelompok tersebut dapat menampung dan mengolah kembali limbah jelantah yang dibeli dari masyarakat.

Keberadaan sistem tersebut pun diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk tidak lagi membuang jelantah sembarangan, melainkan menyalurkannya atau menjualnya kepada kelompok penampung yang telah tersedia.

“Buang jelantah ke mana, ke Situ Gede? Manfaatnya apa? Kami bisa beli, bahkan ada kelompok yang membeli dengan harga Rp9.000 per liter. Jadi sudah ada sistemnya. Kami juga sudah punya kelompok-kelompok masyarakat yang menampung jelantah, baik dari SPPG, restoran, hotel, maupun rumah tangga,” ujarnya.

Menurutnya, kebiasaan membuang limbah ke lingkungan, termasuk ke danau dan sungai, dapat memperburuk kondisi lingkungan, terlebih Indonesia saat ini termasuk ke dalam kategori negara dengan risiko bencana tinggi di dunia.

0 Komentar