Dari Defisit hingga Kasus Lama Kembali Disoal, Ini Alasan Ponpes Kampung Quran Sumedang Tutup Sementara 

Dari Defisit hingga Kasus Lama Kembali Disoal, Ini Alasan Ponpes Kampung Quran Sumedang Tutup Sementara 
Pimpinan Ponpes Kampung Quran Sumedang, Abah Abdul Basit Al Ghifari saat ditemui terkait polemik penutupan sementara atas adanya surat somasi yang dilayangkan. (Yanuar Baswata/Jabar Ekspres)
0 Komentar

Ponpes Kampung Quran yang kala itu sedang disibukkan oleh masa transisi kepengurusan, ditambah upaya kejelasan status lahan yang akhirnya resmi wakaf. Persoalan serius pun mulai dirasakan semua pihak, termasuk para santri, yakni masalah keuangan yang sudah defisit.

Defisit Keuangan

Dalam ruangan dengan kopi hitam yang disuguhkan, di sore hari sekira pukul 16.15 WIB itu, udara sejuk pegunungan mulai memeluk. Abah Basit yang masih duduk dengan posisi awal, melanjutkan kronologi konflik yang cukup jadi sorotan pada Jumat (24/4/2026).

“Ekonomi kita terdampak. Bahkan contoh saja dari 135 santri, paling baik (dana iruan) masuk per bulan itu 71 orang, itu sudah paling baik. Seringnya di bawah angka itu, sehingga kita defisit,” ujarnya lalu melepas peci dan menaruhnya kembali usai merapihkan rambutnya.

Baca Juga:Kunjungi Ponpes Al-Ma’mun Sumedang, Coklat Kita Silatusantren Bikin Santri Peduli Kebersihan LingkunganSatu Rumah dan Pesantren Terjebak Banjir di Desa Baginda Sumedang

Persoalan pun bertambah ketika wali santri mulai mengeluhkan, kegiatan belajar mengajar (KBM) di Ponpes Kampung Quran yang dirasa kurang optimal.

Menurut Abah Basit, kurang optimalnya KBM bukan karena isu sensitif yang sudah lama terjadi, namun akibat masa transisi kepengurusan hingga defisitnya keuangan Ponpes Kampung Quran.

*Musyawarah Bersama Wali Santri* Sebelum mengambil langkah menutup sementara pesantren, pihak Ponpes Kampung Quran sempat mengundang semua wali santri untuk bermusyawarah, mencari solusi terbaik hingga disepakati bersama agar tak ada yang merasa dirugikan.

Abah Basit menerangkan, musyawarah dihadiri seluruh wali santri, pembahaan mengenai aktivitas KBM pun cukup memakan waktu. Meski diskusi terbilang alot, namun keputusan alias solusi pun ditemukan dan sudah disepakati bersama.

“Di 11 April 2026 kita musyawarah bersama orangtua santri. Mereka bertanya, anak saya gimana, ini ke depan bakal gimana. Akhirnya kita menjelaskan, kondisi ponok ini dalam kondisi masalah dan sedang ada transisi,” terangnya lalu meneguk kembali kopi hitam yang sudah tak hangat.

Abah Basit mengungkapkan, dalam kumpulan musyawarah bersama para wali santri, tidak ada pembahasan serta tak dipersoalkan kembali, mengenai kasus sensitif yang sudah lama terjadi.

Mengenai isu pelecehan seksual yang sudah selesai melalui kesepakatan di atas materai kala itu, dinilai bukan menjadi pembahasan utama. Sejumlah orangtua justru lebih fokus mengenai keberlangsungan pendidikan berbasis agama bagi anak-anaknya.

0 Komentar