JABAR EKSPRES – Pemerintah mengklaim bahwa sektor pengembangan proyek-proyek hilirisasi RI lebih unggul dari negara lain, terlebih dari sumber daya alam (SDA) hingga kemudahan investasi.
Hal itu disampaikan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI, Jakarta, Kamis.
“Indonesia mempunyai keuntungan comparative. Negara lain tidak punya bahan bakunya, jadi downstreaming itu menunjukkan comparative advantage dan competitiveness Indonesia, sehingga ini adalah kekuatan dari Indonesia ke depan,” ujarnya, dikutip Jumat (24/4/2026).
Baca Juga:Hal Ini Jadi Kunci BBM Subsidi Tepat Sasaran? Usai 3 Hari Pencarian, Bocah Tenggelam di Sungai Ciliwung-Bogor Ditemukan Tak Bernyawa
Menurutnya, struktur biaya investasi di Indonesia juga relatif lebih rendah dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).
Perbedaan biaya investasi ini, lanjut dia, ditunjang dengan variasi sumber energi, baik itu energi fosil maupun energi baru terbarukan (EBT) yang turut memberikan fleksibilitas bagi industri terkait efisiensi biaya produksi.
Kendati begitu, Menko Airlangga mengatakan, hal ini perlu diperkuat dengan konektivitas jaringan antarpulau agar pasokan listrik yang berlebih di Pulau Jawa bisa diintegrasikan dengan sistem kelistrikan Pulau Sumatera.
“Kita punya kombinasi antara renewable dan non-renewable. Kita tinggal menambah competitiveness kita dengan membangun jaringan listrik Sumatera-Jawa. Hari ini Jawa excess, tapi 3-4 tahun lagi demand akan mengambil, menyedot kelebihan ini sehingga connectivity Jawa-Sumatera jadi penting,” ujar dia.
Airlangga mencontohkan pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi atau geothermal (PLTP) di Aceh dan Sumatera Barat yang kini berada dalam fase pipeline juga menjadi upaya strategis dalam meningkatkan kapasitas energi nasional jika terhubung dengan pusat permintaan (demand) di Jawa.
“Beberapa geothermal project kita terus on the pipeline, termasuk yang ada di Sumatera Barat maupun Aceh. Kalau demand jadi connect dengan demand side di Jawa, ini akan semakin baik,” kata dia.
Selain itu, Menko Perekonomian juga menyoroti adanya peluang pembiayaan internasional untuk proyek energi dan hilirisasi di Indonesia, termasuk dari Jepang melalui forum Asia Zero Emission Committee (AZEC) dengan dana sekitar 10 miliar dolar AS.
