Dari Gang Sempit, Kawung Asli Bawa Kerajinan Bambu Sentuh Pasar Global

Dari Gang Sempit, Kawung Asli Bawa Kerajinan Bambu Sentuh Pasar Global
Diyanah menunjukkan berbagai produk kerajinan bambu karya Kawung Asli. Dengan desain kekinian, kerajinan bambu naik kelas ke pasar dunia. (Hendrik Muchlison/Jabar Ekspres)
0 Komentar

Dari sisi omset, usaha itu juga cukup menjanjikan. Diyanah pernah meraup pendapatan sampai Rp 200 juta dalam sebulan. Ia juga pernah melayani pembelian 600 pcs dalam sekali transaksi. “Permintaan tinggi itu di momen tertentu. Seperti Ramadan, Lebaran, Imlek atau Natal,” katanya.

Tidak hanya itu, produk bambu unik dari Kawung Asli juga cukup diminati pasar global. Beberapa kali warga asing telah membeli produk kerajinan asal Jawa Barat itu. “Pernah itu dari Malaysia, Brunei, Singapura. Saat event di Jakarat juga ada peminat dari Dubai,” cetusnya.

Astra Bangun Mental dan Keterampilan Usaha

Diyanah menceritakan, perjalanan sukses usahanya itu tentu tidak lepas dari peran Astra. Melalui Yayasan Dharma Bhakti Astra, ia mendapatkan berbagai bekal pelatihan mental hingga strategi mengelola usaha. Sehingga UMKM-nya bisa naik kelas.

Baca Juga:Dorong UMKM Melek Bisnis dan Pangan, Anggota DPR: Jangan hanya Jualan!Perkuat Penawaran Global, Purbaya Buka Peluang China Terbitkan Obligasi di Indonesia

Sejak 2025, Diyanah rajin mengikuti berbagai pelatihan dan pendampingan yang diberikan Astra. Mulai dari pelatihan mental, keuangan, foto produk hingga digital marketing. “Ini sangat berarti bagi kami. Mental terbentuk, lalu skill dalam kelola usaha juga naik,” cetusnya.

Selain itu, Diyanah juga mengaku cukup terbantu dengan program pinjaman yang difasilitasi Astra. Itu ikut memutar roda usahanya untuk tumbuh. “Event-event yang divasilitasi juga sangat membantu. Produk kami lebih dikenal luas,” terangnya.

Semangat Sustainable dan Jaga Warisan Budaya

Bagi Diyanah, kerajinan bambu bukan hanya soal usaha. Tapi ada semangat tersendiri dalam menjalani bisnis tersebut.

Kerajinan bambu adalah warisan luhur. Dalam setiap helai anyaman tersimpan nilai semangat, kerja keras dan kearifan lokal.

Karenanya selain mendesain produk kekinian, Diyanah juga berupaya mempertahankan berbagai pola anyaman klasik. Baginya itu adalah warisan yang patut untuk terus dijaga.

“Karena menyelami masyarakat juga menyelami sejarahnya. Jangan sampai melupakan warisan budaya. Kalau tak dipertahankan akan tergerus zaman,” cetusnya dengan tegas saat ditanya alasan khusus menjalani usaha kerajian bambu.

Selain itu juga mendukung program sustainable atau keberlanjutan lingkungan. Produk bambu tentu lebih ramah lingkungan dibandingkan produk-produk plastik. Apalagi saat ini harga plastik melambung buntut situasi global. (son)

0 Komentar