JABAR EKSPRES – Anggota Komisi VII DPR RI, Putra Nababan, mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengubah cara pandang dalam berbisnis.
Ia menekankan bahwa UMKM tidak cukup hanya fokus pada aktivitas jual-beli, tetapi harus berkembang menjadi pelaku usaha yang memahami strategi bisnis sekaligus berkontribusi pada kemandirian pangan.
Menurutnya, masih banyak UMKM yang menjalankan usaha dengan gaya lama, tanpa perencanaan matang, sekadar mengandalkan keberanian tanpa strategi yang jelas.
Baca Juga:Perkuat Penawaran Global, Purbaya Buka Peluang China Terbitkan Obligasi di IndonesiaTerjepit! Kelas Menengah Paling Terdampak Naiknya Harga LPG Nonsubsidi
Pola lama ini dinilai menghambat pertumbuhan usaha dan kesejahteraan pelaku bisnis itu sendiri.
“Kita ingin memastikan yang tumbuh bukan cuma industrinya secara statistik, tapi juga kesejahteraan pelakunya,” kata Putra dikutip dari ANTARA, Rabu (22/4/2026).
Putra menilai, peningkatan kapasitas UMKM tidak hanya soal angka pertumbuhan industri, tetapi juga dampaknya terhadap kualitas hidup para pelakunya.
Oleh karena itu, literasi bisnis menjadi kunci penting. Salah satu bentuknya adalah kemampuan pelaku usaha dalam membangun narasi atau cerita di balik produk yang mereka jual.
Menurutnya, literasi bisnis sebenarnya sederhana yakni bagaimana pelaku usaha pintar “bercerita” tentang keunikan usahanya sendiri.
Ia juga mencontohkan perajin batik di Ciracas atau Pulp Gadung harus mampu menjual filosofi di balik setiap motifnya, sehingga produk tersebut memiliki nilai lebih di mata wisatawan.
“Kita punya Condet dengan wangi parfumnya, Jatinegara dengan kuliner legendaris. Namun kita sering cuma sekadar jualan. Lewat melek bisnis, kita ingin peracik parfum tidak cuma jual parfum, tapi jual cerita di balik aromanya,” kata Putra.
Baca Juga:RI dan Polandia Jalin Kerja Sama, Perkuat Aliansi Pertanian di Tengah Ketidakpastian Global Terhimpit Ekonomi, Wanita di Singaparna Nekat Rampas Gelang Emas Tetangganya
Tidak hanya itu, ia juga menilai masalah modal yang selalu jadi keluhan klasik bagi pelaku UMKM karena banyak pelaku usaha yang masih alergi terhadap bank karena tidak memahami caranya.
Menurutnya, ada sistem Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai “bensin” buat mempercepat laju bisnis, bukan beban cicilan yang menakutkan.
“Bunganya rendah, syaratnya juga nggak ribet, asal punya izin usaha (NIB) dan usahanya beneran jalan. Jadi, jangan biarkan ide bagus mati cuma gara-gara tidak punya modal,” katanya.
