Jejak Putih Debu Kapur dan Cinta yang Tak Pernah Pudar dalam Ruang Kelas

bagi seorang perempuan yang telah menghabiskan lebih dari tiga dekade hidupnya di ruang kelas sebagai guru Bah
bagi seorang perempuan yang telah menghabiskan lebih dari tiga dekade hidupnya di ruang kelas sebagai guru Bahasa Sunda.
0 Komentar

Buku kini sering kalah saing dengan aplikasi media sosial yang menawarkan kesenangan instan tanpa kedalaman makna.

Sebagai guru bahasa Sunda, Popon merasa memiliki beban moral yang lebih besar untuk menjaga identitas leluhur di tengah arus globalisasi.

Ia mengenang masa jaya pada tahun sembilan puluhan saat anak anak masih akrab dengan bahasa ibu di lingkungan rumah mereka.

Baca Juga:Aktivis Kampus Endus Kejanggalan Sidang Skandal Kepabeanan di PN Cibinong16 Mahasiswa IPB Kena Sanksi, Diduga Lakukan Kejahatan Asusila di Kampus

Sekarang ia harus memutar otak lebih keras agar bahasa Sunda tidak dianggap sebagai bahasa asing yang membosankan bagi generasi masa kini.

Minimnya pembiasaan bahasa daerah di lingkungan keluarga menjadi tantangan berat yang harus ia hadapi setiap kali masuk ke dalam ruang kelas.

Keresahannya semakin dalam saat melihat fakta bahwa tenaga pengajar bahasa Sunda kini semakin langka dan mengalami defisit secara nasional. Seringkali mata pelajaran bahasa ibu ini diampu oleh guru mata pelajaran lain yang tidak memiliki roh atau ikatan batin dengan budaya Sunda.

Di SMPN 16 Cimahi tempatnya kini mengabdi, ia pernah menjadi satu satunya spesialis yang harus mengajar hingga lima belas kelas sekaligus.

Beban kerja yang mencapai tiga puluh jam pelajaran per minggu sempat ia jalani sebelum akhirnya kondisi kesehatan memaksanya untuk sedikit melambat.

Tahun 2023 menjadi babak baru yang penuh perjuangan dalam hidupnya saat ia didiagnosa mengidap kanker payudara yang menguras stamina fisiknya.

Meskipun langkah kakinya tidak lagi setegap dulu, Popon tetap berusaha tegak berdiri di depan kelas memberikan sisa energinya untuk siswa tercinta.

Baca Juga:Harga Minyakita Melambung Sentuh Rp 21.000 Pedagang Kecil Menjerit!Masjid Al Jabbar Alokasikan Anggaran Rp 21,5 Miliar untuk Kebersihan, BKAD Bilang Begini

Ia menyadari bahwa setiap detik di sekolah adalah momen berharga sebelum ia resmi memasuki masa purnabakti pada Oktober 2026 mendatang.

Baginya mengajar adalah bentuk penghormatan terakhir kepada cita cita masa mudanya yang kini telah menjadi napas hidup yang utuh.

Menjelang masa pensiun yang tinggal menghitung bulan, Popon memilih untuk benar benar beristirahat dan menikmati hari tua dengan tenang.

Meskipun pihak sekolah masih sangat membutuhkan sosoknya, ia merasa sudah saatnya melepaskan tongkat estafet kepada generasi yang lebih muda.

Ia ingin mengenang masa pengabdiannya sebagai sebuah perjalanan cinta yang tidak memiliki akhir yang pahit melainkan sebuah warisan nilai yang abadi.

0 Komentar