JABAR EKSPRES – Rencana pembenahan sistem angkutan kota (angkot) di Kota Bandung kembali mencuat setelah Wali Kota Muhammad Farhan, mengungkap akar persoalan kemacetan yang semakin parah di ibu kota Provinsi Jawa Barat.
Dalam pernyataannya, Farhan menyoroti sistem trayek yang selama ini digunakan dalam pengaturan transportasi umum, khususnya angkot. Ia menilai sistem tersebut sudah tidak lagi relevan dengan kondisi saat ini, bahkan justru menjadi penghambat bagi angkot untuk bersaing dengan moda transportasi berbasis aplikasi.
“Sekarang strategi apapun untuk kendaraan umum ini sistemnya adalah tidak menggunakan trayek,” ujar Farhan, Minggu (19/4/2026).
Baca Juga:BRT Bandung Raya Digadang Jadi Solusi Transportasi Massal, Tarif Lebih Murah dan Sistem CashlessWajah Baru Bandung, Farhan Tancap Gas Bangun Transportasi Modern untuk Urai Kemacetan
Menurutnya, keberadaan aturan trayek membuat angkot tidak fleksibel dalam melayani penumpang, berbeda dengan ojek online maupun taksi online yang menggunakan sistem berbasis permintaan atau carter.
“Saya akan berjuang agar trayek ini dibongkar total. Kalau pakai aturan trayek maka tidak pernah bisa bersaing dengan ojol dan lainnya. Mengapa? Karena perhitungan sama dengan ojol taksi semuanya berbasis carter. Angkot tidak, ya bagaimana mau dapat. Maka saya berpihak kepada angkot,” tegasnya.
Farhan menilai, perubahan sistem ini penting agar angkot tetap bertahan di tengah persaingan transportasi modern sekaligus menjadi solusi untuk mengurangi kemacetan di Bandung. Dengan sistem yang lebih fleksibel, angkot diharapkan dapat menjangkau penumpang secara lebih efektif dan efisien.
Pemerintah Kota Bandung pun tengah mengkaji skema transformasi tersebut, termasuk kemungkinan penghapusan trayek tetap dan menggantinya dengan sistem operasional yang lebih adaptif berbasis kebutuhan masyarakat.
Meski demikian, Farhan memastikan bahwa kebijakan ini akan disiapkan secara matang dengan mempertimbangkan keberlangsungan para sopir dan pelaku usaha angkot. Pemerintah berkomitmen untuk menghadirkan solusi yang tidak hanya modern, tetapi juga tetap melindungi mata pencaharian mereka.
Dengan wacana perubahan ini, sistem transportasi publik di Kota Bandung diharapkan dapat bertransformasi menjadi lebih kompetitif, terintegrasi, dan mampu menjawab tantangan mobilitas perkotaan di era digital. (dam)
