JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengungkapkan masih menghadapi kesulitan dalam menuntaskan persoalan banjir yang melanda kawasan Bandung Timur.
Tingginya curah hujan serta meluapnya sungai menjadi faktor utama penyebab genangan yang hingga kini belum sepenuhnya surut.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menjelaskan bahwa upaya pengaliran air ke wilayah selatan tidak dapat dilakukan secara optimal.
Baca Juga:Komisi IV Tedy Rusmawan Desak Penanganan Banjir Bandung Raya Masuk Prioritas 2027Bupati Bandung Pastikan Penanganan Banjir Berjalan Optimal, BNPB Segera Tinjau Titik Rawan
Hal ini disebabkan kondisi di wilayah hilir, khususnya di Kabupaten Bandung arah Tegalluar, yang juga tengah dilanda banjir.
“Banjir akibat curah hujan tinggi dan sungai meluap. Ketika genangan air diarahkan ke selatan tidak bisa, karena di Kabupaten Bandung ke arah Tegalluar juga banjir,” ujar Farhan, Kamis (16/4/2026).
Menurutnya, Pemkot Bandung telah mengerahkan berbagai upaya teknis, termasuk penggunaan mesin pompa untuk mengurangi genangan air. Namun, langkah tersebut belum memberikan hasil signifikan karena volume air di bagian hilir masih tinggi.
“Pompa hanya pompa, di hilir volumenya masih tinggi, jadi sulit. Kita pompa terus, tidak ada cara lain untuk sekarang,” katanya.
Farhan menegaskan bahwa penanganan banjir tidak bisa dilakukan secara parsial. Koordinasi lintas wilayah, khususnya dengan Pemerintah Kabupaten Bandung, menjadi kunci dalam upaya mengatasi persoalan tersebut.
Ia juga memastikan akan terus memantau kondisi di lapangan, termasuk dengan kembali mengunjungi wilayah terdampak seperti Rancabolang untuk memastikan penanganan berjalan maksimal dan warga terdampak segera mendapatkan solusi.
“Nanti sore dan malam saya akan datang lagi ke sana, memastikan warga Rancabolang bisa segera diatasi permasalahannya,” tambahnya.
Baca Juga:Nikah di KUA Kian Diminati, Kemenag Kabupaten Bogor Ajak Generasi Muda Sederhanakan ResepsiBPKH Insight di UPI: Ajak Generasi Muda Siapkan Haji Sejak Dini, Dari Niat hingga Finansial
Sementara itu, pengamat kebijakan publik, Achmad Muhtar, menilai bahwa persoalan banjir di Bandung Timur merupakan masalah struktural yang membutuhkan pendekatan jangka panjang, bukan sekadar penanganan darurat.
Menurutnya, ketergantungan pada pompa air menunjukkan bahwa sistem drainase dan tata kelola air di kawasan tersebut belum terintegrasi dengan baik dari hulu ke hilir.
“Selama persoalan di hilir tidak diselesaikan, maka upaya di hulu seperti penyedotan air hanya bersifat sementara. Ini menunjukkan perlunya perencanaan terpadu antarwilayah, termasuk normalisasi sungai dan pengendalian alih fungsi lahan,” ujarnya.
