JABAR EKSPRES – Hujan yang tak berhenti mengguyur wilayah Kabupaten Bandung membuat aktivitas belajar di SDN Sapan 3 kembali terhenti di ruang kelas. Sejak Sabtu (11/4), sekolah dasar ini berubah menjadi genangan air dengan ketinggian mencapai sekitar 60 sentimeter.
Alih-alih dipenuhi suara siswa dan kegiatan belajar, enam ruang kelas serta kantor guru kini tak lagi bisa digunakan. Air yang merendam datang dari luapan pertemuan tiga sungai besar di kawasan tersebut, yakni Cikeruh, Citarik, dan Citarum, yang meluap setelah curah hujan tinggi di wilayah hulu.
Namun, di balik kondisi yang memaksa kegiatan tatap muka dihentikan, proses belajar tetap berusaha berjalan meski berpindah medium menjadi daring. Sekitar 140 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 kini melanjutkan pelajaran dari rumah masing-masing menggunakan perangkat sederhana yang mereka miliki.
Baca Juga:Berawal dari Nongkrong Pemuda, Polisi Bongkar Peredaran Obat Keras di BogorProyek PJU Rp32,7 Miliar di Narogong Belum Optimal, Masih Jadi PR Pemprov Jabar
Penjaga sekolah, Yati Sumiati (50), menceritakan bahwa banjir kali ini datang dengan pola yang tidak menentu. Air sempat surut sehari, namun kembali naik pada malam hari dengan volume yang lebih besar.
“Dari hari Sabtu. Sempat surut kemarin, satu hari, tapi malam datang lagi besar,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).
Bagi warga sekolah, kondisi ini bukan hal baru. Setiap kali debit sungai meningkat, air kerap masuk hingga ke lingkungan sekolah. Posisi bangunan yang berada di area rendah membuatnya rentan terendam.
“Kalau besar mah suka masuk. Kalau cuma di depan mah enggak masuk, tapi kalau dari jalan besar, di sini juga masuk,” kata Yati.
Meski pembelajaran tetap berlangsung secara daring, tantangan lain muncul di balik layar: keterbatasan fasilitas, kekhawatiran orang tua, hingga kondisi rumah siswa yang juga terdampak banjir di beberapa titik.
Selain sekolah, sedikitnya lebih dari 100 rumah warga di dua RT sekitar juga ikut terendam. Di sejumlah lokasi, ketinggian air bahkan mencapai lebih dari satu meter, membuat aktivitas warga lumpuh.
Di tengah situasi ini, sekolah berupaya menjaga komunikasi dengan siswa agar proses belajar tidak sepenuhnya terputus. Namun, kondisi lingkungan yang belum stabil membuat jadwal belajar masih sangat bergantung pada cuaca.
