Yati mengaku cemas setiap kali hujan turun, karena air bisa kembali naik sewaktu-waktu dan merendam fasilitas yang tersisa, termasuk buku dan perlengkapan belajar.
“Was-was dari semalam enggak bisa tidur. Takutnya buku-buku yang di atas kena,” ungkapnya.
Meski berbagai upaya darurat dilakukan, pihak sekolah berharap ada solusi jangka panjang dari pemerintah, mengingat banjir sudah berulang dan terus mengganggu pendidikan anak-anak di wilayah tersebut.
