Kita lihat ketika terjadi pertikaian atau konflik di tanah air, biasanya terjadi secara lokal. Sebut saja konflik Poso (Desember 1998 s/d Desember 2001), Sampit (Desember 2000 s/d Pebruari 2001). Ambon (1999 s/d 2002) dan lain-lain. Namun di negara lain ketika terjadi konflik maka bisa dipastikan eskalasinya menjalar atau meluas ke seluruh negeri.
Sebut misalnya ketika Israel berperang melawan Hizbullah. Hizbullah ini dalam pengamatan penulis tidak lebih seperti ormas, Namun karena Hizbullah tidak jarang menyerang wilayah Israel maka negara Lebanon sebagai lokasi domisili Hizbullah tidak luput dari hantaman Israel. Dan yang terkena hantaman hampir seluruh wilayah Lebanon.
Jadi apa kesimpulannya? Kita harus banyak bersyukur dengan kondisi karunia Tuhan kepada bangsa kita dalam keadaan atau bentuk apapun karunia itu. Jadi sekalipun rakyat dalam keadaan yang sangat sulit faktanya tidak ada peperangan di negara kita.
Baca Juga:Strategi Bertahan, Menhub Perkuat Penerbangan Domestik di Tengah Tekanan GlobalPerhutanan Sosial Jadi Penggerak Ekonomi Baru, Menhut Ajak Warga Kelola Hutan Secara Berkelanjutan
Beda halnya di negara lain yang rawan konflik. Begitu terjadi peperangan itu berarti terjadi kesulitan ekonomi, pangan, energi, orang tua/dewasa susah bekerja, susah anak-anak bersekolah dan lain sebagainya. Tentu harapan kita sebagai masyarakat adalah kondisi aman terkedali dalam arti tidak ada peperangan idealnya juga dibarengi aman terkendali secara perekonomian. Ayukk kita perbanyak bersyukur dan berdoa kehadirat-Nya agar kondisi ideal itu dapat terwujudkan, aamiin.
*) penulis adalah Youtuber, penulis buku, pengamat sosial dan kemasyarakatan.
