Di Balik Sepotong Tempe, Tekanan Harga Global Hantam Produsen di Cimahi

Di Balik Sepotong Tempe, Tekanan Harga Global Hantam Produsen di Cimahi
BERTAHAN DI TENGAH TEKANAN: Pelaku usaha tempe di Cimahi menyiasati kenaikan harga bahan baku dengan memangkas produksi.
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kenaikan harga kedelai dan plastik dalam beberapa hari terakhir membuat produsen tempe di Kota Cimahi berada dalam tekanan yang semakin nyata, menandai babak baru dalam dinamika industri pangan tradisional di tengah lesunya ekonomi nasional.

Fenomena kenaikan harga kedelai di Cimahi ini tidak hanya memengaruhi biaya produksi, tetapi juga memaksa pelaku usaha kecil menyesuaikan strategi bertahan hidup di pasar yang kian sepi.

Produsen tempe sekaligus Ketua Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Kopti) Kota Cimahi, Kusnanto, menggambarkan situasi tersebut sebagai tekanan berlapis.

Baca Juga:Tekanan Pelajar Makin Kompleks, Ini Faktor Baru Pemicu Stres Remaja Menurut Psikolog UPTD PPA CimahiTak Bisa Dianggap Sepele! UPTD PPA Cimahi Waspadai Ledakan Masalah Mental Anak

Ia menjelaskan bahwa harga kedelai impor sebagai bahan baku utama tempe kini telah mencapai kisaran Rp10.500 hingga Rp10.700 per kilogram, naik signifikan dari harga normal sebelumnya yang berada di rentang Rp8.000 sampai Rp9.000 per kilogram. Lonjakan harga kedelai impor di Cimahi ini menjadi faktor utama yang menggerus margin keuntungan produsen tempe.

Kondisi ini, menurut Kusnanto, semakin mempersempit ruang gerak produsen tempe di tengah melemahnya daya beli masyarakat. Kenaikan harga bahan baku tempe di Cimahi berlangsung bersamaan dengan perlambatan ekonomi, menciptakan tekanan ganda yang memaksa produsen untuk bertahan dalam ketidakpastian.

Kebutuhan hidup yang terus berjalan tanpa kompromi membuat para pelaku usaha kecil menghadapi dilema antara menjaga kualitas, harga, dan keberlanjutan usaha.

“Sekarang harga kedelai sudah melejit, meskipun belum terlalu tinggi. Sekitar Rp10.500 bahkan ada yang Rp10.800 per kilogram di pasar,” kata Kusnanto saat ditemui pada Rabu (8/4/2026). Pernyataan ini mencerminkan kondisi riil di lapangan terkait fluktuasi harga kedelai yang menjadi perhatian utama dalam industri tempe Cimahi.

Selain kenaikan harga kedelai, produsen tempe Cimahi juga menghadapi kenaikan harga plastik sebagai bahan pembungkus. Kusnanto menyebutkan bahwa harga plastik mengalami lonjakan cukup tajam, dari Rp30 ribu per pax menjadi Rp50 ribu per pax.

Kata Kusnanto, kenaikan harga plastik pembungkus tempe pun kini menambah beban biaya produksi, sementara alternatif penggunaan daun pisang dinilai tidak memungkinkan karena justru lebih mahal dalam praktiknya.

“Terus harga plastik juga kan lagi naik, berdampak pastinya. Misalnya Rp30 ribu per pax naik jadi Rp50 ribu per pax, ya kan lumayan selisihnya. Kalau pakai daun pisang juga enggak mungkin, justru lebih mahal,” ujar Kusnanto, menegaskan keterbatasan pilihan yang dimiliki produsen dalam menghadapi kenaikan biaya bahan pendukung.

0 Komentar