Di Balik Sepotong Tempe, Tekanan Harga Global Hantam Produsen di Cimahi

Di Balik Sepotong Tempe, Tekanan Harga Global Hantam Produsen di Cimahi
BERTAHAN DI TENGAH TEKANAN: Pelaku usaha tempe di Cimahi menyiasati kenaikan harga bahan baku dengan memangkas produksi.
0 Komentar

Sebagai langkah adaptasi, produsen tempe di Cimahi menerapkan strategi penyesuaian ukuran produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Tempe dengan harga Rp5 ribu kini diproduksi dengan berat sekitar 300 gram, sementara ukuran 400 gram dijual Rp6 ribu, dan ukuran terbesar 900 gram dibanderol Rp12.500. Penyesuaian ukuran tempe di Cimahi ini menjadi cara untuk menjaga keseimbangan antara daya beli konsumen dan keberlangsungan usaha.

Di sisi lain, produksi juga terpaksa dikurangi hingga sekitar 30 persen akibat menurunnya permintaan pasar. Kusnanto menyebut bahwa kondisi pasar saat ini relatif sepi, mencerminkan penurunan daya beli masyarakat. Penurunan produksi tempe di Cimahi ini menjadi indikator langsung dari melemahnya konsumsi rumah tangga terhadap produk pangan berbasis kedelai.

“Dampaknya kita juga mengurangi produksi 30 persenan, dan market di pasar memang sepi, daya beli menurun. Untuk ukuran kita perkecil tapi enggak setipis ATM juga. Harga normal, jadi nanti kalau kedelai turun ukuran kita kembalikan lagi,” ujar Kusnanto, menjelaskan langkah taktis yang diambil produsen tempe untuk mempertahankan pelanggan.

Baca Juga:Tekanan Pelajar Makin Kompleks, Ini Faktor Baru Pemicu Stres Remaja Menurut Psikolog UPTD PPA CimahiTak Bisa Dianggap Sepele! UPTD PPA Cimahi Waspadai Ledakan Masalah Mental Anak

Lebih jauh, Kusnanto mengaitkan kenaikan harga kedelai impor dengan faktor eksternal, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Selain itu, dinamika geopolitik global seperti perang antara Amerika dan Iran yang berujung pada penutupan Selat Hormuz turut memengaruhi distribusi dan harga kedelai di pasar internasional. Faktor global harga kedelai ini berdampak langsung pada stabilitas harga bahan baku tempe di Cimahi.

Dalam lanskap yang lebih luas, situasi produsen tempe di Cimahi ini mencerminkan tekanan struktural yang dihadapi sektor usaha mikro berbasis pangan di Indonesia. Kenaikan harga kedelai dan plastik di Cimahi bukan sekadar persoalan biaya, melainkan juga tentang daya tahan ekonomi rakyat kecil dalam menghadapi gelombang perubahan global yang datang tanpa aba-aba.

“Faktornya karena dollar katanya ya, tapi kan walaupun dollar naik harusnya ada standar harga di kita berapa. Kita pengusaha ya ikut saja, yang penting ketersediaan ada. Daripada harga murah tapi barangnya enggak ada, ya repot juga kalau begitu,” ujar Kusnanto menutup, menggambarkan sikap pragmatis pelaku usaha dalam menghadapi ketidakpastian pasokan dan harga. (Mong)

0 Komentar