Tekanan Pelajar Makin Kompleks, Ini Faktor Baru Pemicu Stres Remaja Menurut Psikolog UPTD PPA Cimahi

Tekanan Pelajar Makin Kompleks, Ini Faktor Baru Pemicu Stres Remaja Menurut Psikolog UPTD PPA Cimahi
Ilustrasi pelajar yang mengalami tekanan mental. (Dok. Pixabay)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Tekanan yang dihadapi pelajar kini mengalami pergeseran signifikan. Jika sebelumnya beban utama didominasi oleh tuntutan akademik, saat ini faktor ekonomi mulai muncul sebagai sumber stres baru yang turut memengaruhi kesehatan mental remaja.

Tenaga Ahli Psikolog Klinis UPTD PPA Cimahi, Yukie Agustia Kusmala, mengungkapkan bahwa berbagai masalah mental seperti kecemasan dan depresi tidak muncul begitu saja, melainkan dipicu oleh stresor yang berasal dari luar individu.

“Stresor atau penyebab stres yang mengawali. Entah tadi tuntutan akademik, entah ekonomi, entah apa pun itu tuh yang bisa menyebabkan kesehatan mental turun, itu awalnya,” terangnya saat diwawancarai Jabar Ekspres di ruang kerjanya, Senin, 6 April 2026.

Baca Juga:Tak Bisa Dianggap Sepele! UPTD PPA Cimahi Waspadai Ledakan Masalah Mental AnakStres pada Remaja Kian Marak, UPTD PPA Cimahi Ungkap Ini Pemicunya!

Menurut Yukie, tingkat keparahan dampak yang ditimbulkan sangat bergantung pada bagaimana individu merespons tekanan tersebut. Interaksi antara diri seseorang dengan stresor menjadi kunci apakah tekanan itu berkembang menjadi kecemasan atau bahkan depresi.

“Atau misalnya kita jadi worry, kita jadi cemas. Itu tergantung diri kitanya. Tergantung seberapa kuat kita menghadapi masalahnya, tergantung bagaimana cara kita menanggapi masalah itu atau stresor itu,” cetusnya.

Ia menyoroti adanya perubahan pola tekanan di lingkungan pelajar. Jika sebelumnya fokus utama adalah beban akademik, kini realitas menunjukkan adanya tambahan tekanan yang tidak kalah berat, yakni persoalan ekonomi.

“Jadi stresornya bertambah,” ungkap Yukie.

Perubahan ini, lanjutnya, menjadi dinamika baru yang tidak bisa diabaikan. Pelajar yang semestinya hanya berkutat pada urusan belajar, kini turut memikirkan persoalan yang lebih kompleks, termasuk kondisi ekonomi keluarga.

“Sekarang menariknya ada tambahan itu, entah dari keluarga, entah dari ekonomi, yang kita pikir seharusnya itu tidak jadi tanggungan atau beban pikiran pelajar, namun ternyata dipikirkan,” kata Yukie.

Sementara itu, Tenaga Ahli Psikolog Klinis UPTD PPA Cimahi, Intan Mustika, menilai meningkatnya pembicaraan soal stres dan depresi di kalangan pelajar bukanlah tren baru, melainkan fenomena yang kini lebih terlihat.

“Mereka lebih punya kesadaran untuk menamai bahwa ‘aku tuh lagi stres, aku tuh cemas, aku tuh sedih’,” tutur Intan.

0 Komentar