Stres pada Remaja Kian Marak, UPTD PPA Cimahi Ungkap Ini Pemicunya!

Stres pada Remaja Kian Meningkat, PPA Kota Cimahi Ungkap Ini Pemicunya!
Ilustrasi remaja berteriak lantaran mengalami stres akibat berbagai tekanan. Dok. Freepik
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Tren kesehatan mental di kalangan pelajar dan remaja di Kota Cimahi menunjukkan perubahan dari tahun ke tahun. UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Cimahi mencatat, dinamika kasus yang ditangani tidak lagi didominasi satu faktor tunggal, melainkan semakin beragam dan kompleks.

Tenaga Ahli Psikolog Klinis UPTD PPA Cimahi, Intan Mustika, mengungkapkan bahwa pada tahun 2025 kasus yang banyak ditangani cenderung berkaitan dengan kekerasan seksual. Namun, pada tahun ini muncul fenomena lain yang turut menjadi perhatian, termasuk kasus bunuh diri yang melibatkan warga Cimahi.

Ia menjelaskan, dari hasil penelusuran, faktor penyebab tidak selalu berasal dari lingkungan sekolah yang relatif aman, melainkan dipengaruhi oleh kondisi personal dan latar belakang masing-masing individu.

Baca Juga:Faktor Maraknya Child Grooming di Cimahi, UPTD PPA Cimahi Sebut Ancaman NyataFenomena Child Grooming Mengintai Anak di Era Digital, UPTD PPA Cimahi Ungkap Pola Senyap Kekerasan Seksual

“Setiap orang itu berbeda, tergantung karakter dari anak tersebut. Ada yang begitu ekonominya kurang, dia pikirin, ‘nanti ke depan gimana ya’,” ujarnya saat diwawancarai Jabar Ekspres di ruang kerjanya, Senin (7/4/2026).

“Ada yang hanya pelajaran, ekonomi nggak dia pikirin. Tapi pelajaran (nilainya), misalnya kecil dia langsung down. Takut nanti nggak lulus, atau takut apa gitu. Sehingga nggak bisa disamaratakan setiap orang,” sambung Intan.

Menurut dia, peran keluarga menjadi salah satu faktor paling krusial dalam menjaga kesehatan mental anak. Pola asuh yang suportif dinilai mampu membantu anak menghadapi tekanan, termasuk saat mengalami penurunan prestasi akademik.

“Kalau dikeluarganya, misalnya ayah dan ibunya berperan penting di dalam keluarga. Orangtuanya bersama-sama, bagaimana sih menguatkan anak kita sehingga kalau nilai kecil, misalnya dia yang biasanya dapat nilai sepuluh jadi lima, langsung down, langsung kepikiran, besok nggak mau sekolah,” jelasnya.

Namun, situasinya bisa berbeda ketika peran orang tua hadir secara penuh. Ia mencontohkan, ketika seorang ibu memberikan perhatian dan penguatan, anak tidak lagi terjebak dalam rasa gagal.

Menurutnya, pendekatan sederhana seperti meyakinkan bahwa nilai bisa naik atau turun, dan yang terpenting adalah usaha, justru memberi dampak besar bagi mental anak. Dari situ, anak belajar melihat kegagalan sebagai hal sementara, bukan akhir dari segalanya.

0 Komentar