JABAR EKSPRES – Lonjakan arus pendatang ke Kota Bandung usai momen Idulfitri kembali menjadi fenomena tahunan yang tak terelakkan. Banyak individu dari berbagai daerah datang dengan harapan memperbaiki taraf hidup di kota yang dikenal sebagai pusat ekonomi dan pendidikan di Jawa Barat tersebut.
Akademisi psikologi, Billy Martasandy, menilai bahwa fenomena ini tidak hanya soal perpindahan fisik, tetapi juga kesiapan mental yang kerap luput dari perhatian para pendatang.
Menurut Billy, ada beberapa hal mendasar yang perlu dipersiapkan sebelum memutuskan “adu nasib” di kota metropolitan seperti Bandung.
Baca Juga:Pekerja Informal Jadi Alarm Pengangguran, Dewan Desak Pemkot Bandung Optimalkan PendampinganDi Balik Kota Kreatif, Pengangguran dan Kemiskinan Jadi Tantangan RKPD 2027 Bandung
“Yang pertama adalah kesiapan psikologis. Banyak orang datang dengan ekspektasi tinggi, tetapi tidak siap menghadapi tekanan, persaingan, dan kemungkinan kegagalan,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).
Ia menjelaskan, realitas kehidupan di kota besar sering kali berbeda jauh dari bayangan. Tekanan ekonomi, tuntutan pekerjaan, hingga adaptasi sosial dapat memicu stres, kecemasan, bahkan kelelahan mental jika tidak diantisipasi sejak awal.
Selain itu, Billy juga menekankan pentingnya memiliki tujuan yang jelas. Pendatang disarankan tidak hanya bermodal nekat, tetapi juga rencana konkret, seperti keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja serta jaringan sosial yang bisa membantu proses adaptasi.
“Soft skill seperti kemampuan komunikasi, manajemen emosi, dan daya tahan terhadap tekanan sangat penting. Ini yang sering membedakan siapa yang bisa bertahan dan siapa yang akhirnya kembali,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya literasi finansial bagi para pendatang. Biaya hidup di kota seperti Bandung yang relatif tinggi menuntut pengelolaan keuangan yang bijak agar tidak terjebak dalam kesulitan ekonomi.
Lebih lanjut, Billy menyarankan agar para pendatang tetap menjaga keseimbangan antara ambisi dan realitas. Menurutnya, sikap idealis perlu diimbangi dengan fleksibilitas agar mampu beradaptasi dengan berbagai situasi yang tidak terduga.
Fenomena urbanisasi pasca lebaran ini, kata dia, seharusnya juga menjadi perhatian pemerintah daerah dalam menyediakan akses informasi, pelatihan kerja, hingga dukungan psikososial bagi para pendatang baru.
Baca Juga:Angka Pengangguran Masih Tinggi, Pemkot Bandung Andalkan Transformasi Digital Bursa KerjaDisnaker Bandung Targetkan Pengangguran Turun Satu Persen Lewat Job Fair Kecamatan
“Datang ke kota besar bukan hanya soal berani, tapi juga soal siap. Siap mental, siap keterampilan, dan siap menghadapi kemungkinan terburuk,” pungkasnya. (Dam)
