Agar Wisatawan Tak Kapok, Disparbud Tekankan Tata Kelola Sampah di Kawasan Wisata

Wisata alam berbasis desa di Jawa Barat. (son)
Wisata alam berbasis desa di Jawa Barat. (son)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat mendorong perbaikan tata kelola sampah di kawasan wisata untuk menyambut momen Libur Lebaran 2026.

Sampah jadi masalah serius, tidak hanya menjadi masalah perkotaan tapi juga bakal menjadi masalah di kawasan wisata.

Apalagi di momen padatnya pengunjung seperti yang bakal terjadi selepas Lebaran 2026 nanti. Sampah di kawasan wisata perlu dikelola dengan bijak. Jika tidak, akan membuat pengunjung tidak nyaman. Ujungnya juga berdampak negatif pada ekosistem di kawasan wisata itu sendiri.

Baca Juga:Dirikan Klub Satelit di Bandung, PB Jaya Raya siap Hadirkan Atlet Berpotensi untuk Bulu Tangkis Perkuat Silaturahmi, Ketua Relawan Bedas Galih Hendrawan Salurkan Paket Sembako di Pameungpeuk

Disparbud Jawa Barat juga tengah berkoordinasi lintas sektoral membahas persoalan sampah tersebut. Mulai dari kementerian lingkungan Hidup, hingga para kepala daerah di Jawa Barat.

“Pengelolaan sampah ini, khususnya di kawasan wisata masih perlu penguatan sistem, ” jelas Kadisparbud Jawa Barat Iendra Sofyan, Selasa (17/3).

Iendra menuturkan volume sampah di Jawa Barat saat ini mencapai sekitar 29.000 ton per hari. Dari jumlah tersebut, Kota Bandung menyumbang sekitar 1.200 hingga 1.800 ton sampah per hari.

Padahal Kota Bandung juga menjadi salah satu rujukan wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Disparbud memiliki gagasan Program Berseka atau Bersih di Kawasan Wisata. Program ini menyasar sektor pariwisata, terutama hotel, restoran, dan kafe.

“Titik tekannya adalah upaya meningkatkan kebersihan di kawasan wisata, ” jelasnya.

Iendra mencontohkan, sejumlah destinasi wisata memiliki potensi besar untuk menerapkan pengelolaan sampah mandiri karena memiliki area yang cukup luas. Salah satu contohnya adalah Saung Angklung Udjo yang memungkinkan pengolahan sampah dilakukan langsung di lokasi.

Program ini juga mengangkat nilai filosofi Sunda, yaitu ngarumat (merawat), ngaruat (menata dan membersihkan), serta ngajaga (menjaga secara berkelanjutan). Nilai tersebut diharapkan menjadi landasan dalam membangun kesadaran pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Pelaksanaan program dilakukan secara bertahap, mulai dari identifikasi lokasi, penyusunan panduan, sosialisasi, implementasi, hingga pengawasan. Beberapa lokasi telah menjadi proyek percontohan, seperti di Kampus PPN Cirebon dan Museum Sri Baduga.

Baca Juga:ORIS Hadir di Bandung, PT SMI Ajak Masyarakat Jawa Barat Berkontribusi dalam Pembangunan NasionalDoa Lailatul Qadar Lengkap dengan Artinya, Amalan di 10 Malam Terakhir Ramadan

Di sisi lain, Jawa Barat ini juga banyak potensi objek wisatanya. Mulai dari wisata alam hingga wisata berbasis edukasi. Sehingga harapannya program itu bisa berkembang. (son)

0 Komentar