Ia menilai kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) memiliki potensi besar, tetapi juga dapat menjadi sumber disinformasi jika tidak digunakan secara bijak.
Menurut Luhut, pengembangan teknologi AI di masa depan sangat bergantung pada penguasaan ilmu dasar seperti matematika dan fisika.
“AI ini menurut saya ada baik ada jeleknya, AI kuncinya di matematika dan fisika, jadi ini harus nanti diperkuat karena semua sekarang berbasis AI,” bebernya.
Baca Juga:ESDM Tahan Produksi Batu Bara Meski Harga Global Naik Akibat Konflik Timur TengahKonflik Timur Tengah Memanas, Bupati Sumedang Kaji Dampaknya hingga ke Daerah
Ia juga menjelaskan bahwa sistem Government Technology yang sedang dikembangkan pemerintah kini mulai diarahkan menggunakan pendekatan berbasis AI agar pengelolaan data menjadi lebih terintegrasi.
“Jadi Government Technology waktu awal dibuat itu tidak berbasis AI. Sekarang kami buat berbasis AI. Kenapa? Supaya semua data itu dibersihkan dan semua data itu di-update secara otomatis karena semua terintegrasi, jadi membangun ekosistem,” imbuhnya.
Menutup paparannya, Luhut menegaskan bahwa ketidakpastian global masih akan berlangsung selama berbagai konflik internasional belum menemukan titik penyelesaian.
“Ketegangan Amerika-Latin juga belum selesai, sekarang sudah datang lagi dengan ketidakpastian Timur Tengah,” tandasnya. (Mong)
