Konflik Iran-Israel Picu Ketidakpastian Ekonomi Global, Luhut Ungkap Dampaknya

Konflik Iran-Israel Picu Ketidakpastian Ekonomi Global, Luhut Ungkap Dampaknya
Ketua Dewan Ekonomi Nasional Republik Indonesia, Luhut Binsar Panjaitan saat Menghadiri Kuliah Umum Kepemimpinan di Auditorium Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) (Mong)
0 Komentar

Dalam kesempatan tersebut, Luhut juga mengingatkan mahasiswa agar lebih kritis dalam menyikapi informasi global yang beredar di dunia digital.

“Kita sama-sama untung dan kita tidak, istilah saya, kita nggak bodoh-bodoh amatlah, kita tahu apa yang harus kita lakukan. Jadi anak-anakku mahasiswa, kalian jangan terlalu cepat terpengaruh dengan sosmed itu,” pesannya.

Selain konflik Iran-Israel, Luhut juga menyinggung sejumlah dinamika geopolitik lain yang masih memicu ketidakpastian global, seperti perang Rusia-Ukraina serta ketegangan antara Amerika Serikat dan kawasan Amerika Latin.

Baca Juga:ESDM Tahan Produksi Batu Bara Meski Harga Global Naik Akibat Konflik Timur TengahKonflik Timur Tengah Memanas, Bupati Sumedang Kaji Dampaknya hingga ke Daerah

Menurutnya, kondisi tersebut turut mendorong perubahan dalam sistem rantai pasok global, di mana banyak negara kini mulai lebih fokus pada kepentingan domestik masing-masing.

“Kita lihatlah apa yang akan terjadi ke depan, ini kita lihat perubahan global supply chain sekarang sudah mulai kelihatan, seperti masa Covid, negara ini sekarang berpikir sendiri,” ujarnya.

Pemerintah Indonesia sendiri, kata Luhut, terus memantau dampak konflik global terhadap stabilitas energi nasional. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memastikan ketersediaan pasokan energi tetap aman.

“Kemarin kita panggil Patra Niaga menanyakan bagaimana suplai LPG, bagaimana suplai crude oil, bagaimana pembeliannya dari Amerika, pembawaannya ke Indonesia dan seterusnya,” jelasnya.

Di sisi lain, Luhut juga menyoroti perlambatan ekonomi China yang turut memberi tekanan terhadap ekonomi global. Meski demikian, ia menilai kerja sama ekonomi Indonesia dan China selama satu dekade terakhir justru memberi manfaat besar bagi Indonesia.

Menurutnya, kebijakan hilirisasi yang didorong melalui kerja sama tersebut membuat kinerja ekspor Indonesia mengalami surplus dalam waktu yang cukup panjang.

“Ini jadi masalah, juga perlambatan ekonomi Cina juga masalah. Tapi selama 10 tahun terakhir kita sangat terbantu dengan kerjasama kita dengan Cina, di mana kita membuat hilirisasi, downstreaming, sehingga ekspor kita kalau saya ndak keliru 63 bulan sekarang itu selalu surplus,” terang Luhut.

Baca Juga:Strategi Indonesia Hadapi Konflik Global, Amankan Pasokan Energi dari Luar Timur TengahKonflik Timur Tengah Kian Memanas, UMKM Perlu Waspadai Ini

Di akhir pemaparannya, ia kembali menekankan pentingnya sikap kritis dalam menerima informasi, termasuk memanfaatkan teknologi digital untuk mencari sumber pembanding.

“Ada benarnya, Google sekali-sekali, kalau lihat ChatGPT, tanya DeepSeek, tanya mana, apa sebenarnya yang terjadi, sehingga kamu dapat pembanding. Tidak tercekoki dengan sekarang AI yang sangat bisa bermain macam saja,” tegasnya.

0 Komentar