Disdik Dorong Pertahankan Literasi Dasar di tengah Perkembangan Teknologi

Kadisdik Jawa Barat Purwanto (dok humas)
Kadisdik Jawa Barat Purwanto (dok humas)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Dinas Pendidikan Jawa Barat mendorong keseimbangan literasi dasar di tengah gempuran teknologi digital. Salah satunya budaya menulis tangan yang masih patut untuk dipertahankan.

Perkembangan teknologi memang tidak bisa dipungkiri. Namun jika tidak diperhatikan, itu akan menimbulkan ketergantungan dan berdampak buruk.

Akademisi Rhenald Kasali turut menyampaikan pandangan dan keprihatinannya terkait kondisi tersebut. Ia menguraikan, kemampuan dasar siswa kian menurun akibat ketergantungan berlebihan pada perangkat digital.

Baca Juga:Doa Lailatul Qadar Lengkap dengan Artinya, Amalan di 10 Malam Terakhir RamadanRide of Happiness Ajak 100 Anak Yatim Berbagi Kebahagiaan Ramadan

Saat ini sejumlah negara berkembang bahkan mulai kembali membudayakan literasi dasar terhadap anak. Seperti di Inggris, siswa sekolah dasar kini didorong, bahkan diwajibkan menulis tangan setiap hari sebagai bagian dari kegiatan refleksi dan penguatan kemampuan berpikir.

Demikian halnya, di Skandinavia yang kembali mendorong penggunaan buku cetak dalam pembelajaran. Hal ini dipicu kekhawatiran bahwa generasi saat ini memiliki daya ingat yang lebih lemah dibandingkan generasi sebelumnya karena terlalu cepat beralih ke teknologi digital.

“Berdasarkan neuroscientist, ternyata anak yang menulis dengan tangan, perkembangan kognitifnya lebih baik dibandingkan yang sepenuhnya bergantung pada perangkat digital,” cetusnya, Rabu (11/3).

Berkaitan dengan itu, Kadisdik Jawa Barat Purwanto pun mengingat kepada jajarannya terkait masih pentingnya literasi dasar. Sehingga pengembangan literasi dasar masih perlu dipraktekkan seiring perkembangan teknologi.

Kemajuan teknologi memang tidak bisa dipungkiri, namun literasi dasar juga tak boleh ditinggalkan. “Jadi keterampilan dasar seperti menulis itu tetap harus diperkuat, ” cetusnya.

Purwanto menambahkan, sekolah perlu bijak memanfaatkan teknologi agar tidak menghilangkan keterampilan fundamental yang menjadi fondasi proses belajar. “Kami dorong satuan pendidikan untuk tetap memberikan ruang bagi anak untuk aktivitas literasi yang melibatkan tulisan tangan, ruang itu tak boleh sirna, ” jelasnya. (son)

0 Komentar