Inflasi Ramadhan Jadi Pola Tahunan, BPS Catat Lonjakan Harga Konsisten dalam 5 Tahun

Inflasi Ramadhan Jadi Pola Tahunan, BPS Catat Lonjakan Harga Konsisten dalam 5 Tahun
Ilustrasi inflasi naik setiap Ramadan di Indonesia. (Dok. Pixabay)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan bahwa inflasi bulanan (month-to-month/mtm) selalu terjadi setiap periode Ramadhan dalam lima tahun terakhir.

Fenomena ini menunjukkan pola musiman yang konsisten, terutama dipicu kenaikan harga bahan pangan dan komoditas bergejolak.Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi setiap Ramadhan.

“Secara umum, komoditas (dari komponen) bergejolak serta komoditas dari Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi komponen penyebab utama andil inflasi di setiap momen Ramadhan,” ucapnya dikutip dari ANTARA, Selasa (3/3/2026).

Baca Juga:Bahlil Tegaskan Impor Energi dari AS hanya Pengalihan Pemasok, Bukan Penambahan VolumeJaga Daya Beli Masyarakat, Dirut Bulog Lakukan Pengawasan Rutin Harga Pangan Selama Ramadan

Ia mengatakan, momen Ramadhan pada April 2022 mencatatkan inflasi sebesar 0,95 persen mtm.

Komoditas pendorong utama di antaranya minyak goreng (andil 0,19 persen), bensin (0,16 persen), daging ayam ras (0,09 persen), tarif angkutan udara (0,08 persen), dan ikan segar (0,04 persen).

Kemudian, di Ramadhan berikutnya pada bulan Maret 2023, inflasi tercatat menurun menjadi 0,18 persen mtm.

Tarif angkutan udara dan bensin (dengan andil masing-masing 0,03 persen) serta beras, cabai rawit, rokok kretek filter, dan bawang putih (masing-masing memberi andil 0,02 persen) dan ikan segar (0,04 persen).

Kenaikan juga kembali pada Maret 2025 saat inflasi menyentuh 1,65 persen mtm, menendai level tertinggi terjadinya inflasi pada momen Ramadhan dalam 5 tahun terakhir.

Inflasi terbesar disumbangkan oleh tarif listrik (1,8 persen), diikuti bawang merah (0,11 persen), cabai rawit dan ikan segar (masing-masing 0,06 persen), emas perhiasan (0,05 persen), serta daging ayam ras (0,03 persen).Sementara pada tahun ini, inflasi bulanan di momen Ramadan Februari 2026 tercatat sebesar 0,68 persen mtm, didorong oleh emas perhiasan (0,19 persen), daging ayam ras (0,09 persen), cabai rawit (0,08 persen), ikan segar (0,05 persen), cabai merah (0,04 persen), dan tomat (0,02 persen).

“Tingkat inflasi pada Februari 2026 bertepatan dengan momen Ramadhan lebih rendah jika dibandingkan momen Ramadhan pada tahun 2022, yaitu Ramadhan terjadi pada bulan April, dan juga lebih rendah dari Ramadhan tahun 2025 yang terjadi pada bulan Maret,” ujar Ateng.

0 Komentar