Bahlil Tegaskan Impor Energi dari AS hanya Pengalihan Pemasok, Bukan Penambahan Volume

Bahlil Tegaskan Impor Energi dari AS hanya Pengalihan Pemasok, Bukan Penambahan Volume
Ilustrasi industri minyak bumi. (Dok. Pixabay)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan kesepakatan dagang energi antara Indonesia dan Amerika Serikat tidak akan meningkatkan total volume impor energi nasional.

Kerja sama tersebut ditegaskan hanya berupa pengalihan sumber pasokan dari negara lain ke Amerika Serikat.

“Untuk kebutuhan LPG kita setiap tahun sebesar 8,3 juta ton, sementara produksi nasional kita 1,6 juta sehingga per tahun kita mengimpor 7 juta ton. Yang kedua BBM dan ketiga crude (minyak mentah), inilah yang kita konsensuskan kemarin di Amerika untuk belanja 15 miliar dolar AS,” ujar Bahlil dikutip dari ANTARA, Senin (2/3/2026).

Baca Juga:Jaga Daya Beli Masyarakat, Dirut Bulog Lakukan Pengawasan Rutin Harga Pangan Selama RamadanEkonomi Desa Siap Naik Kelas, Koperasi Subang Ekspor 3 Ton Manggis ke Pasar China 

Ia menegaskan, kesepakatan dagang hanya mengalihkan sumber impor dari negara lain ke Amerika Serikat.

Menteri ESDM menjelaskan kebutuhan energi Indonesia, terutama Liquified Petroleum Gas (LPG), BBM dan minyak mentah, memang masih ditopang oleh impor karena produksi dalam negeri belum mencukupi.

Menurutnya, kesepakatan dengan Amerika Serikat tidak menambah total volume impor, melainkan hanya memindahkan asal negara pemasoknya.

Harga pembelian tiga komoditas energi ini tetap mengikuti mekanisme pasar. Bahkan, untuk LPG hargadari Amerika Serikat disebut lebih kompetitif dibandingkan negara lain.

“Harga impor ketiga produk senilai 15 miliar dolar AS dari Amerika tersebut sama dengan harga pasar. Jadi tidak ada perbedaan apakah dari Middle East (Timur Tengah) atau dari Amerika. Itu harganya sama, bahkan justru untuk LPG dari Amerika jauh lebih murah ketimbang dari negara-negara yang lain,” ujarnya.

Ia juga menekankan kebijakan ini tidak akan membebani negara ataupun mengganggu kedaulatan energi nasional.

“Kita hanya mengganti saja. Jadi volume angka impornya sama, switch tempatnya aja yang berbeda. Jadi yakinlah bahwa kedaulatan bangsa ini tetap terjaga, saya tidak akan mungkin menjual bangsa sendiri,” ucapnya.

Baca Juga:Jadi Penopang Ekonomi Pesisir, KKP Pastikan Kemudahan Pupuk Subsidi Bagi Pembudidaya IkanKredit UMKM Bisa Tumbuh Pesat dengan Perbaikan Tiga Sektor Utama 

Sebelumnya, Indonesia menyepakati perdagangan energi dengan Amerika Serikat senilai 15 miliar dolar AS.

Kesepakatan tersebut terutuang dalam Reciprocal Trade Agreement (RTA) atau Agreement on Reciprocal Trade (ART). Perjanjian ini difinalisasi dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di Washington DC pada Kamis (19/2/2026).

0 Komentar