Di Balik Gurihnya Kerupuk Mie Kuning, Asa Saepudin Tak Pernah Padam

Saepudin (60) tengah membuat kerupuk mie kuning di dapur sempitnya, menjaga kerenyahan dan kualitas tiap kepin
Saepudin (60) tengah membuat kerupuk mie kuning di dapur sempitnya, menjaga kerenyahan dan kualitas tiap keping selama 15 tahun terakhir. Foto Sandika Jabar Ekspres
0 Komentar

Minyak panas berdesis nyaring di dapur sempit berukuran 2×3 meter di tepi Situ Sela, Karadenan, Kabupaten Bogor. Di ruang sederhana inilah Saepudin (60) mengaduk kerupuk mie kuning dengan hati-hati, wajahnya memerah diterpa panas api. Dari dapur kecil itu pula, selama 15 tahun terakhir, ia dan istrinya menggantungkan hidup.

Sandika, Jabar Ekspres.

Setiap pagi, Saepudin berdiri di depan wajan hitamnya, memastikan minyak tetap panas dan berkualitas agar kerupuk yang digorengnya renyah dan tahan lama.

“Kerupuk mie kuning ini bisa bertahan sampai dua minggu tidak alot, asal menggunakan minyak yang bagus,” ujarnya, Kamis (26/2).

Baca Juga:Kehangatan Bernuansa Heritage dalam Momen Berbuka Puasa “A Wishful Ramadan” ala de Braga by ARTOTELAda 250 Kursi Mudik Gratis Pemkot Bandung, Siap Antar Warga Pulang ke Kota-kota Ini!

Kerupuk buatannya menjadi pelengkap favorit asinan bagi banyak warga Jakarta dan sekitarnya. Ia menjualnya seharga Rp1.200 per keping kepada pengecer, dengan pesanan datang tidak hanya dari warga sekitar, tetapi juga hingga Depok.

Saepudin bukan sekadar meneruskan usaha keluarga. Ia merintis usahanya sendiri dari nol.

“Bukan pewaris, tapi perintis,” katanya sambil menjemur mie kuning di atas genteng rumahnya yang sederhana.

Setiap hari, ayah satu anak ini membeli kerupuk mentah berbahan tepung tapioka langsung dari pabrik yang lokasinya tak jauh dari rumahnya. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan hingga lima bal, masing-masing seberat 5 kilogram dan berisi sekitar 150 keping kerupuk.“Kita bisa dapat sampai lima bal begini. Sehari habis, sehari habis,” tuturnya.

Setelah selesai menggoreng, sang istri dengan cekatan membungkus kerupuk-kerupuk itu untuk disalurkan ke pengecer. Pasangan ini berbagi peran tanpa banyak kata, mengandalkan kerja sama yang telah terjalin belasan tahun.

Momentum terbesar mereka terjadi saat bulan Ramadhan. Permintaan meningkat tajam, membuat dapur kecil itu bekerja lebih lama dari biasanya.“Meningkat kalau bulan puasa. Kalau hari lain, kerupuk jenis lain yang dijual. Kalau kerupuk ini hanya bulan puasa saja, tapi lumayan lah hasilnya,” pungkas Saepudin.

0 Komentar