Tari di Braga, Mataholang Hidupkan Jejak Inggit dan Tan Tjoei Gin

Seniman Tari, Indira Tamaya (kiri) dan Angeline Azhar (tengah) dari Mataholang menggelar aksi teatrikal di Jal
Seniman Tari, Indira Tamaya (kiri) dan Angeline Azhar (tengah) dari Mataholang menggelar aksi teatrikal di Jalan Braga, Kota Bandung. Aksi tersebut digelar dalam rangka hari lahir Inggit Garnasih serta untuk memperkuat akulturasi budaya dengan menggunakan batik bermotif Merak Ngibling dan corak warna khas budaya Tiongkok yang bertepatan dengan hari Imlek. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

Pagi itu, dua penari melangkah menyusuri Jalan Braga, Kota Bandung. Kebaya yang dikenakan berpadu dengan samping bermotif Merak Ngibing, sementara warna merah dan kuning, warna khas perayaan Imlek, menyala di antara derap langkah pejalan kaki dan deru kendaraan.

Muhammad Nizar, Jabar Ekspres

Seniman tari Indira Tamaya dan Angeline Azhar dari Komunitas Mataholang menggelar aksi teatrikal dalam rangka peringatan HUT Ibu Inggit Garnasih ke-138 yang bertepatan dengan Tahun Baru Imlek, Selasa (17/2).

Pertunjukan bertajuk ‘Inggit dan Kain – Batik Tan Tjoei Gin’ itu dimulai pukul 10.00 WIB, dengan rute Jl. Ir. Sukarno, Jl. Braga Pendek, Bank BJB, Jl. Braga, Jl. Perintis Kemerdekaan, dan berakhir di depan Gedung Indonesia Menggugat.

Baca Juga:BULOG Kancab Bandung Gelar Gerakan Pangan Murah Jelang Ramadhan, Stok Dipastikan AmanPA Kota Cimahi Bahas Kesejahteraan Yudisial dalam Diskusi Internasional BPHPI–FCFCOA

Momentum ini, menurut Koordinator Komunitas Mataholang, Gatot Gunawan, bukan sekadar perayaan hari lahir tokoh perempuan yang dikenal sebagai istri Presiden pertama RI tersebut.

“Menginformasikan kepada masyarakat bahwa Tahun Baru Imlek tahun ini bertepatan pula dengan HUT Ibu Inggit Garnasih ke-138,” ungkap Gatot Gunawan.

Lebih dari itu, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk mengangkat kembali kisah relasi Inggit dengan pengusaha kain Tan Tjoei Gin di Pasar Baru, Bandung.

Disebutkan bahwa Inggit telah mengenal Tan Tjoei Gin sejak menjadi istri Haji Sanusi (1904-1923), saat membeli bahan kebaya dan kutang di tokonya yang dikenal lengkap dan terjangkau.

Hubungan itu berlanjut ketika Inggit menikah dengan Soekarno pada 1923-1943. Saat Soekarno diasingkan ke Ende (1934-1938), mereka bekerja sama dengan Tan Tjoei Gin menjual bahan pakaian dengan sistem komisi 10 persen.

Bahkan, dalam surat bertanggal 5 Mei 1936, Soekarno memuji kualitas kain wol dari toko tersebut. “Toean poenja kain-kain wol memang djempol. Doeloe, waktoe masih ada di Bandoeng, semoea saja poenja keperloean pakaian saja selaloe ambil dari dari toean poenja toko,” tulis Soekarno dalam surat yang kemudian dimuat di koran Sipatahoenan pada 12 Juni 1936.

Sementara itu, Mataholang menyebut bahwa momentum peringatan ini menjadi sarana untuk menginformasikan kepada masyarakat tentang kisah Ibu Inggit yang mempunyai hubungan yang baik dengan etnis Tionghoa, yang diperkuat melalui kisah Inggit dengan Tan Tjoei Gin.

0 Komentar