Duka Longsor Pasirlangu Cisarua KBB Dinodai Selfie Pengunjung

Puluhan rumah dan pertanian warga di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, rata dengan tanah usai
Puluhan rumah dan pertanian warga di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, rata dengan tanah usai diterjang longsor pada 24 Januari 2025 lalu. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Keluarga korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), menyayangkan maraknya pengunjung yang menjadikan lokasi bencana sebagai latar swafoto.

Di tengah suasana duka yang belum sepenuhnya pulih, area terdampak longsor di Kampung Pasirkuning dan Kampung Pasirkuda justru didatangi warga luar daerah hanya untuk berfoto dan membuat konten media sosial.

Padahal, proses pemulihan masih berlangsung dan pencarian korban belum sepenuhnya tuntas. Sejumlah titik longsoran masih menyisakan material tanah dan puing, sementara sebagian keluarga korban terus menanti kabar anggota keluarganya yang belum ditemukan sejak bencana terjadi pada Sabtu, 24 Januari 2026.

Baca Juga:Lewat #TemanAturUang, Kredit Pintar Dorong Ibu Lebih Bijak Pahami Pinjaman dan Kelola Keuangan SehatMeski Sulit, Tuntaskan di Bandung!

“Sejak berhentinya pencarian oleh tim gabungan, banyak orang dari luar daerah datang cuma untuk selfie, foto-foto, dan video. Saya sangat menyayangkan,” ujar Nurdeni (33), salah satu warga terdampak longsor, Rabu (18/2/2026).

Ia menilai fenomena yang disebut warga sebagai “wisata bencana” itu melukai perasaan keluarga korban. Kehadiran pengunjung yang hanya datang untuk berfoto dinilai menunjukkan kurangnya empati terhadap warga yang tengah berduka.

“Kami masih berduka. Di sini bukan tempat rekreasi, tapi tempat kami kehilangan keluarga. Masih ada tiga anggota keluarga saya yang belum ditemukan,” tegasnya.

Nurdeni mengaku kehilangan 17 anggota keluarganya dalam bencana tersebut. Dari jumlah itu, 14 orang telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, sementara tiga lainnya masih dalam proses pencarian.

Ia berharap masyarakat luar daerah dapat memahami kondisi psikologis keluarga korban yang belum sepenuhnya pulih.

“Kalau hanya ingin membuat konten atau sekadar swafoto, sebaiknya jangan di sini. Kami ingin lokasi ini dihormati sebagai tempat duka, bukan dijadikan latar media sosial,” katanya.

Senada dengan itu, Ani (45) mengatakan meski aktivitas di lokasi longsor perlahan kembali normal, masyarakat tetap diimbau menunjukkan empati.

Baca Juga:Bojan Tak Menyerah! Persib Siap Balas Kekalahan di Leg KeduaStrategi Gubernur Ahmad Luthfi Turut Sukseskan Program Prioritas Presiden 

“Kami tidak melarang orang datang, tapi tolong jaga sikap. Jangan jadikan penderitaan kami sebagai tontonan,” tandas Nurdeni. (Wit)

0 Komentar