Ratusan Anak di Cimahi Putus Sekolah, Pemkot Ungkap Akar Masalahnya!

Ratusan Anak di Cimahi Putus Sekolah, Pemkot Ungkap Akar Masalahnya!
Wali Kota Cimahi, Ngatiyana bersama Ketua DPRD Kota Cimahi, Wahyu Widayatmoko (Kiri), dan Sekdisdik Cimahi, Juli Suprijadi (Kanan) saat Pembukaan FGD Dinas Pendidikan di Aula A Pemkot Cimahi (mong)
0 Komentar

“Termasuk penganggaran-penganggaran program-program apa yang dilakukan rencana tahun 2027. Kalau forum ini sudah membahas Insyaallah beriringan dengan Musrenbang-nya ketika tingkat kecamatan nanti dibawa ke kota menjadi program RPJMD di tahun 2027 nanti,” ujarnya.

Forum tersebut dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, unsur GTK Jawa Barat, serta Forkopimda Kota Cimahi. Seluruh pihak, kata Ngatiyana, terlibat dalam pembahasan guna memastikan proses dan mekanisme pendidikan di Cimahi berjalan optimal.

“Alhamdulillah ini mudah-mudahan berjalan dengan baik dan lancar untuk menyiapkan rencana program pembangunan tahun 2027,” imbuhnya.

Baca Juga:Tekan Angka Putus Sekolah, Pemkot Cimahi Salurkan Bantuan Sarpras untuk PAUD dan Pendidikan KesetaraanKarang Taruna Beraksi, Warga Cibeunying Kaler yang Putus Sekolah Bisa Kembali Bersekolah

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Cimahi, Juli Suprijadi, memaparkan bahwa faktor penyebab anak putus sekolah di Cimahi tergolong kompleks. Dinas Pendidikan, kata dia, telah melakukan pendataan secara menyeluruh terhadap anak-anak yang tidak bersekolah.

“Dari sekitar 700 tadi itu, kita data ternyata prioritas utamanya mereka itu tidak mau sekolah, awalnya,” ungkap Juli.

Pendataan tersebut dilakukan dengan melibatkan aparat kewilayahan hingga tingkat paling bawah.

“Kita kerja sama dengan kewilayahan, dengan Kelurahan, terus sampai ya Kecamatan, Kelurahan, sampai dengan RT, RW, mendata nama-nama yang memang jelas tidak sekolah,” jelasnya.

Hasil pendataan menunjukkan bahwa sebagian besar anak putus sekolah disebabkan oleh faktor internal.

“Nah, umum dari 700 itu sekitar 28 atau 38 persenan itu mereka umumnya tidak sekolah karena tidak mau,” imbuh Juli.

Ia menjelaskan bahwa keengganan bersekolah dipicu oleh berbagai hal, mulai dari keinginan bermain hingga minimnya motivasi belajar.

Baca Juga:Program Terpadu Berhasil Tekan Angka Anak Putus Sekolah di Kota BanjarSetda Jabar Dorong Putus Rantai Kemiskinan Lewat Sekolah Rakyat dan Pemberdayaan Keluarga

“Nah itu hampir menduduki indikator pertama kenapa mereka tidak mau sekolah,” katanya.

Faktor ekonomi menjadi penyebab berikutnya, disusul alasan lain seperti pernikahan dini dan keharusan bekerja.

“Yang kedua, lanjutnya adalah memang kurang mampu. Jadi mereka karena ekonomi dan sebagainya itu, sehingga tidak melanjutkan sekolah gitu. Dan data yang lainnya mungkin banyak faktor yang lain, ada yang nikah, ada yang juga kerja dan sebagainya,” paparnya.

Juli menambahkan, anak tidak sekolah (ATS) umumnya berasal dari jenjang transisi, yakni lulusan SD yang tidak melanjutkan ke SMP atau lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke SMA.

0 Komentar