Air Terputus, Petani Paprika Pasirlangu Bertahan di Tengah Pilihan Pahit

Air Terputus, Petani Paprika Pasirlangu Bertahan di Tengah Pilihan Pahit
Di lahan ini, ribuan tanaman hortikultura sempat tumbuh kokoh dan sehat. Namun setelah longsor menerjang wilayah tersebut, lahan pertanian rusak, pasokan air terputus, dan petani harus menelan kerugian besar. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Air bersih berhenti mengalir. Sejak itu, kehidupan warga Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, ikut tersendat.

Longsor besar di lereng Gunung Burangrang bukan hanya menimbun rumah dan lahan pertanian, tetapi juga memutus jalur air yang selama ini menjadi tumpuan hidup ribuan warga.

Di kebun paprika miliknya, Cucu hanya bisa pasrah. Sebagian tanamannya rata dengan tanah, sementara sisanya terancam mati karena kekurangan air.

Baca Juga:Evakuasi Korban Longsor Pasirlangu Capai 92 Kantung JenazahJumlah Temuan Korban Longsor Pasirlangu Lampaui Data Warga Hilang

Dari sekitar 2.000 pohon paprika yang ditanam di lahan seluas 562,5 meter persegi, kini hanya setengah yang tersisa dan kondisinya kian melemah. Jalur air bersih yang biasa mengaliri kebun itu tertutup material longsor.

Kerugian pun tak terelakkan. Cucu memperkirakan kerugiannya mencapai Rp30 juta. Bagi petani kecil, angka itu bukan sekadar hitungan di atas kertas, melainkan modal hidup yang lenyap.

“Padahal sebentar lagi panen, tapi karena sulit air jadi terancam gagal panen,” lirihnya.

Paprika merupakan tanaman yang tak mengenal jeda. Penyiraman harus dilakukan setiap hari agar suhu tanaman tetap stabil dan tidak mudah terserang penyakit. Tanpa pasokan air, daun menguning, buah gagal tumbuh, dan jamur mudah menyerang.

Namun di tengah kondisi itu, Cucu memilih menahan diri. Ia enggan menggunakan air yang kini diperebutkan warga untuk kebutuhan paling dasar minum, memasak, dan mandi.

“Kalau warga buat kebutuhan sehari-hari, sekarang saya minta buat nyiram paprika kan nggak lucu, kasihan juga mereka,” katanya.

Pilihan itu menempatkan Cucu pada persimpangan pahit menyelamatkan kebun atau berbagi air demi kepentingan bersama. Ia memilih mengalah, meski sadar risiko gagal panen semakin besar.

Baca Juga:Huntara dan Dana Tunggu Hunian Disiapkan untuk Pengungsi Longsor PasirlanguDiduga Ada Tindak Pidana Sebabkan Longsor di Cisarua, Begini Kata Polisi

“Mau enggak mau harus mengikhlaskan. Sekarang air lagi sulit, jangankan untuk petani, warga pun kesulitan,” ujarnya.

Padahal selama ini, paprika dari Pasirlangu mengalir ke berbagai daerah. Mulai dari pasar lokal Bandung Raya hingga luar kota bahkan lintas pulau. Hasil kebun menjadi tumpuan hidup keluarga, biaya sekolah anak, hingga kebutuhan harian.

Kondisi serupa dialami banyak petani lain. Desa Pasirlangu dikenal sebagai sentra hortikultura di lereng Gunung Burangrang. Mayoritas warganya menggantungkan hidup dari sektor pertanian, terutama paprika.

0 Komentar