Kepala Desa Pasirlangu, Nur Awaludin Lubis, menyebut sekitar 90 persen penduduk desa bekerja sebagai petani. Dari total luas wilayah sekitar 1.000 hektare, hampir seperempatnya ditanami paprika.
“Petani paprika di sini sekitar 500 orang. Ini pemasok paprika nasional, paling jauh dikirim sampai Surabaya dan Bali,” ujarnya.
Namun longsor membuat rantai itu terputus. Selain merusak permukiman, bencana ini juga berdampak pada sekitar 30 hektare lahan pertanian. Secara persentase mungkin kecil, tetapi dampaknya menjalar luas air terputus, tanaman mati perlahan, dan pendapatan warga terancam hilang.
Baca Juga:Evakuasi Korban Longsor Pasirlangu Capai 92 Kantung JenazahJumlah Temuan Korban Longsor Pasirlangu Lampaui Data Warga Hilang
Di Pasirlangu, longsor bukan sekadar tanah yang runtuh. Ia menjelma krisis air, krisis pangan, dan krisis penghidupan. Di tengah keterbatasan, warga dipaksa memilih antara menyelamatkan tanaman atau sekadar bertahan hidup hari ini.
“Yang paling diharapkan sekarang air bisa kembali mengalir. Kalau air ada, tanaman mereka masih bisa bertahan,” pungkas Nur Awaludin. (Wit)
