JABAR EKSPRES – Jumlah perceraian di Kota Bandung, dilaporkan setiap tahunnya terus menunjukkan angka signifikan.
Bahkan berdasarkan data yang diperoleh dari Pengadilan Agama (PA) Bandung, sebanyak 7.119 kasus perceraian di Kota Bandung telah terjadi sepanjang tahun 2025.
Dimana salah satu faktornya, yakni karena masalah ekonomi yang menunjukkan angka hingga mencapai 1.839 kasus dibawah perselisihan atau pertengkaran rumah tangga yang menyentuh di angka 3.459 kasus di tahun 2025 kemarin.
Baca Juga:Angka Perceraian di Kabupaten Bandung Tembus 9.606 Perkara Sepanjang 2025Lantai Jebol, Wanita di Bandung Jatuh Terseret Arus Sungai Cijagra
Menanggapi permasalahan ekonomi yang menjadi salah satu faktor terjadinya perceraian di Kota Bandung, Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan (Unpas), Acuviarta Kartabi, menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan sesuatu refleksi dari sulitnya mencari lapangan pekerjaan.
“Kemudian masih tingginya angka kemiskinan, sehingga faktor-faktor itu berkolaborasi dan menyebabkan banyak persoalan ekonomi yang kompleks,” katanya saat dikonfirmasi, Rabu (4/2).
Menurut Acu, kurang literasi masyarakat juga menjadi salah satu faktor dalam terjadinya permasalahan ekonomi.
“Misalkan terkait Judol (Judi Online), kemudian juga Pinjol (Peminjaman Online), nah itu ikut mempengaruhi daripada kompleksitas masalah ekonomi rumah tangga,” ungkapnya.
Sehingga kata Acu, kini banyak keluarga yang tidak siap dihadapkan dengan kondisi tersebut.
“Dan saya kira efek yang paling terasa pasti karena faktor emosional dan sebagainya, sehingga memunculkan banyak fenomena perceraian keluarga karena alasan ekonomi,” ucapnya.
Maka agar hal tersebut dapat segera teratasi, Acu mendorong, agar serapan tenaga kerja khususnya di wilayah Kota Bandung dapat terus ditingkatkan.
Baca Juga:Lantai Jebol, Wanita di Bandung Jatuh Terseret Arus Sungai CijagraPenahanan Belum Dilakukan, Dua Tersangka Dugaan Korupsi di Pemkot Bandung Masih Jalani Pemeriksaan
Selain itu ia juga meminta, agar para pemangku kebijakan khususnya pemerintah untuk terus melibat masyarakat sebagai bagian dari tenaga kerja maupun mitra.
“Nah yang selanjutnya, saran saya, siapkan kawasan-kawasan ekonomi yang bisa membuat aktivitas ekonomi masyarakat tumbuh. Misalkan seperti sektor UMKM, karena faktanya sekarang tenaga kerja sektor informal itu makin naik. Jadi ini harus dianggap masalah yang serius, yang kompleks. Karena perceraian itu banyak implikasi sosial ekonominya ke depan,” pungkasnya.
Sementara itu berdasarkan data yang di dapat dari PA Bandung, selain akibat perselisihan atau pertengkaran rumah tangga dan ekonomi, angka perceraian di Kota Bandung tahun 2025 juga diakibatkan oleh beberapa faktor seperti diantaranya karena meninggalkan salah satu pihak, kekerasan rumah tangga (KDRT), judi, mabuk, murtad, hingga perselingkuhan.(San).
