“Ya sebenarnya tidak ada paksaan dari kita. Kita mah hanya sebatas menghimbau, memberi informasi bahwa kebutuhan sekolah tuh sekian,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa sumbangan bersifat gotong royong dan mempertimbangkan jumlah siswa yang cukup besar.
“Dengan jumlah siswa sekian kalau digotong bareng-bareng kan ringan ya. Kalau dibebankan cuma satu kelas coba bayangkan, kebutuhan sebesar itu dibebankan sama satu kelas kira-kira mampu nggak mereka? Enggak kan?,” bebernya.
Baca Juga:Dinilai Memberatkan, Keluhan Orang Tua MTSN Cimahi Soal Sumbangan BangunanDishub Cimahi Tegaskan Angkot Tak Dihapus Meski Bakal Ada BRT, Benarkah?
“Makanya kita himbau untuk yuk bareng-bareng kita, apa, kita dukung bareng-bareng. Kelas 7 tuh ada 11 kelas, A. Ada 11 kelas dengan jumlah siswa 352,” sambung Winda.
Menurut Winda, komite secara sengaja tidak menetapkan nominal tertentu agar tidak membebani orang tua dengan latar belakang ekonomi yang beragam.
“Kalau kita mau, di form yang pernyataan itu udah kita tulis: mau berapa? 5 juta, 3 juta, 2 juta. Dengan mudah kita akan tulis tapi kita tidak lakukan itu karena kita masih menghargai orang tua dengan latar belakang ekonomi yang berbeda gitu,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa batas waktu yang ditetapkan hanya untuk pengumpulan formulir kesanggupan, bukan pembayaran dana.
“Yang saya kasih target ke mereka adalah pengumpulan formulirnya yang tadi Aa baca itu, maksimal tanggal 4 Februari 2026. Untuk apa? Ya form yang pernyataan ini. Saya kasih maksimal sampai tanggal 4 itu. Form-nya doang loh ya, bukan uangnya yang kami minta,” tegasnya.
Winda menilai polemik yang muncul lebih disebabkan oleh kesalahpahaman informasi.
“Miscom, iya betul, betul,” ujarnya singkat.
Sementara itu, Ketua Komite MTSN Cimahi, H. Yaya Rustia menjelaskan bahwa langkah mengundang orang tua kelas VII untuk bermusyawarah dengan mengacu pada petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan dari kementerian agama Republik Indonesia.
Ia mengungkapkan bahwa dorongan awal justru datang dari sejumlah orang tua yang mempertanyakan minimnya perubahan sarana sekolah.
Baca Juga:Pembatasan Dana BOS dan Nasib Guru Honorer, Begini Skema Pembayaran di Kota CimahiKesejahteraan Guru Honorer Cimahi Dipetakan, Disdik Soroti Kekosongan Tenaga Pendidik
“Bu, saya kan anak saya di sini kelas 7. Ini mau masuk ke semester 2, tapi kelihatannya enggak ada apa-apa.’ ‘Ya seperti dulu mah kan ada sumbangan dari orang tua dan sebagainya,” tutur Yaya menirukan percakapan tersebut.
