Kondisi fisik bangunan sekolah, menurut Yaya, memang membutuhkan perhatian serius.
“Ada genteng yang seperti ini, genteng miring, ada tembok seperti ini, terus ada pintu WC yang seperti ini,” ujarnya, seraya menyebut plafon dan kusen yang sudah lapuk.
Ia menambahkan bahwa dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak sepenuhnya bisa digunakan untuk kebutuhan renovasi.
“Apakah ada dari dana BOS? Ada. Tetapi dana BOS yang untuk 2026 itu, 2025 itu sudah dianggarkan,” katanya.
Baca Juga:Dinilai Memberatkan, Keluhan Orang Tua MTSN Cimahi Soal Sumbangan BangunanDishub Cimahi Tegaskan Angkot Tak Dihapus Meski Bakal Ada BRT, Benarkah?
Dengan jumlah siswa 1.037 siswa, dan siswa kelas tujuh sebanyak 352 siswa, dana yang tersedia harus dibagi untuk berbagai kebutuhan pendidikan.
“Kalau siswanya sedikit mah enggak apa-apa dengan dana sebanyak itu, kan. Bisa kita gunakan, maksimalkan,” ujarnya.
Yaya kembali menegaskan bahwa komite tidak pernah menentukan besaran sumbangan.
“Komite tidak menargetkan, umpamanya, umpamanya nih komite 1.000, 2.000, enggak. Silakan. Hasil daripada kesepakatan dan atas kerelaan,” katanya.
Ia menyayangkan munculnya prasangka akibat informasi yang tidak utuh.
“Ini kan nanyanya kepada yang enggak jelas, akhirnya prasangka-prasangka yang buruk gitu,” ucapnya.
Menutup pernyataannya, Yaya menegaskan bahwa niat komite semata-mata untuk kepentingan madrasah.
“Saya mah tidak ada niatan untuk mencari kehidupan di madrasah, melainkan ingin menghidupkan madrasah,” pungkasnya. (Mong)
