Oleh Sadam Husen Soleh Ramdhani
Nama Lavyin Kurzawa bukan nama asing di sepak bola Eropa. Bertahun-tahun ia menghabiskan kariernya di panggung besar benua biru, merasakan atmosfer stadion elite, tekanan kompetisi kelas dunia, hingga dinamika ruang ganti klub-klub mapan.
Namun di titik tertentu dalam perjalanan kariernya, Kurzawa mengambil keputusan yang tak biasa, Bandung.
Bukan Paris, bukan London, bukan pula kota-kota elite Eropa lainnya. Pilihannya jatuh pada Persib Bandung, klub dengan sejarah panjang, basis suporter masif, dan identitas yang kuat di Asia Tenggara.
Baca Juga:Ramai Soal Reshuffle Kabinet Prabowo Siang Ini, Nama Juda Agung Menguat untuk Posisi WamenkeuLayvin Kurzawa, Jawaban Persib di Fase Paling Menentukan
Keputusan itu bukan tanpa pertimbangan. Dalam pernyataannya, Kurzawa menyebut tiga hal utama yang langsung mencuri perhatiannya.
“Lihatlah ketenarannya, lihatlah stadionnya, lihatlah kotanya. Orang-orang mengenal Persib, dan saya sangat bahagia.”
Kalimat singkat itu merangkum alasan yang lebih dalam, Persib bukan sekadar klub, tapi fenomena.
Setelah bertahun-tahun bermain di Eropa, Kurzawa berada di fase karier yang berbeda. Ia tidak lagi semata mengejar trofi atau kontrak besar, melainkan pengalaman, tantangan baru, dan warisan. Persib menawarkan semuanya.
Nama besar Persib telah lama menembus batas Indonesia. Klub ini dikenal luas di Asia, memiliki jutaan pendukung fanatik, Bobotoh, dan selalu menjadi pusat perhatian di setiap kompetisi yang diikuti. Bagi Kurzawa, ketenaran Persib justru menjadi daya tarik utama.
“Semua orang tau Persib,” ucapnya, seolah menegaskan bahwa ia datang ke klub yang reputasinya sudah mapan, bukan proyek instan.
Sebagai pemain yang tumbuh di budaya sepak bola Eropa, stadion adalah segalanya. Dan Persib punya itu.
Baca Juga:Dion Markx Jadi Simbol Regenerasi Persib BandungDPRD KBB Fraksi PDI Perjuangan Kawal MBG Agar Berkualitas dan Tepat Sasaran
Atmosfer laga kandang Persib, dengan ribuan suporter bernyanyi tanpa henti, koreografi tribun, dan tekanan emosional yang intens, mengingatkan Kurzawa pada malam-malam besar sepak bola Eropa.
Bagi seorang pemain, atmosfer seperti itu bukan beban, melainkan energi.
Ia tidak datang ke Bandung untuk pensiun dalam senyap. Ia datang ke kota yang hidup dengan sepak bola, di mana setiap pertandingan adalah peristiwa.
Selain sepak bola, Kota Bandung menjadi faktor penting. Kurzawa menyebutnya secara khusus, look the city.
