Lereng Curam Tak Lagi Ditanami Sayuran, Mentan Dorong Kelapa hingga Kopi

Lereng Curam Tak Lagi Ditanami Sayuran, Mentan Dorong Kelapa hingga Kopi
Kondisi Kampung Pasir Kuning dan Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, usai diterjang longsor. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman akan menata ulang pola tanam di kawasan pertanian rawan longsor dengan mengganti tanaman hortikultura menjadi tanaman perkebunan berakar kuat.

Kebijakan ini ditempuh untuk menekan risiko erosi dan mencegah bencana longsor berulang di wilayah lereng curam.

“Lahan pertanian di daerah dengan kemiringan tajam tidak lagi ideal ditanami sayuran. Apalagi, pola tanam hortikultura di lereng curam justru meningkatkan kerentanan tanah terhadap erosi dan pergerakan tanah,” ujar Amran usai meninjau lokasi longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Rabu (28/1/2026).

Baca Juga:Tim DVI Polda Jabar Terima 50 Kantong Jenazah, 34 Korban Longsor Cisarua Berhasil DiidentifikasiDedi Mulyadi Pastikan Santunan Rp25 Juta bagi Ahli Waris Korban Longsor Pasirlangu

Pemerintah, kata Amran, akan mengalihkan komoditas hortikultura ke tanaman perkebunan seperti kelapa, kopi, dan alpukat yang memiliki sistem perakaran lebih dalam dan kuat sehingga mampu menahan struktur tanah.

“Anggarannya sudah tersedia. Kami tinggal menunggu usulan dari Pak Bupati dan Pak Gubernur. Begitu masuk, kami langsung bergerak,” katanya.

Ia menjelaskan, penanaman hortikultura di lereng dengan kemiringan 20 hingga 45 derajat sangat berisiko memicu erosi dan longsor. Jika pola tanam tersebut terus dibiarkan, potensi bencana serupa akan terus berulang di masa mendatang.

“Kawasan yang sekarang ditanami hortikultura akan kami tata ulang. Tanaman perkebunan akarnya lebih dalam sehingga bisa menahan tanah,” katanya.

Lebih lanjut, Amran menyebutkan kebijakan penataan ulang lahan pertanian ini sejalan dengan arahan Presiden yang memerintahkan pengembangan tanaman perkebunan seluas sekitar 870.000 hektare di seluruh Indonesia, dengan prioritas pada wilayah rawan bencana.

“Penataan ulang tersebut juga menjadi respons atas kondisi lereng perbukitan di wilayah yang mengalami longsor dan diketahui dipenuhi tanaman sayuran dataran tinggi,” pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyoroti maraknya alih fungsi kawasan hutan menjadi lahan pertanian intensif di wilayah tersebut. Ia menilai, jenis tanaman yang dibudidayakan tidak sesuai dengan karakter alam lereng pegunungan.

Baca Juga:Alfamart Kirim Bantuan Bagi Korban Longsor CisaruaRetakan Tanah Muncul di Teras Kamojang Ibun, Polisi Sebut Berpotensi Longsor

Hanif menyebutkan, sebagian besar sayuran yang ditanam berasal dari wilayah subtropis Amerika Selatan seperti Chile dan Peru, yang secara ekologis tidak cocok untuk ditanam di lereng curam pegunungan Indonesia.

0 Komentar