Panik Longsor Susulan, Jumlah Pengungsi Pasirlangu Cisarua Membengkak Lebih dari 900 Jiwa

Panik Longsor Susulan, Jumlah Pengungsi Pasirlangu Cisarua Membengkak Lebih dari 900 Jiwa
Warga korban terdampak bencana longsor mengungsi di Kantor Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat. Senin (26/1). Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kepanikan akibat kekhawatiran longsor susulan membuat jumlah pengungsi di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), membengkak hingga lebih dari 900 jiwa.

Ratusan warga tersebut saat ini mengungsi di Posko Kantor Desa Pasirlangu dan Gedung Olahraga (GOR) Pasirlangu. Membeludaknya pengungsi dipicu kekhawatiran akan potensi bencana susulan, di tengah belum jelasnya pemetaan zona aman dan zona bahaya pascalongsor.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, mengatakan pemerintah akan segera melakukan pendataan ulang pengungsi serta memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak terjebak kepanikan. Pemprov Jawa Barat juga akan menerjunkan tim dari Badan Geologi untuk memetakan tingkat kerawanan wilayah terdampak longsor.

Baca Juga:Badan Geologi: Curah Hujan hingga Tingginya Aktivitas Alih Fungsi Lahan Picu Longsor Susulan di Cisarua KBBUrbanisasi Dorong Alih Fungsi Lahan, Menteri LH Soroti Pemicu Longsor Cisarua Bandung Barat

“Banyak warga yang sebenarnya berada di zona aman ikut mengungsi karena khawatir. Karena itu, hari ini kami menghadirkan Badan Geologi agar ada kepastian zona merah dan zona hijau berdasarkan kajian teknis,” ujar Herman saat ditemui di lokasi pengungsian, Senin (26/1/2026).

Menurut Herman, hasil pemetaan tersebut akan menjadi dasar penanganan pengungsi ke depan. Warga yang berada di zona hijau akan diarahkan kembali ke rumah masing-masing, sementara warga di zona merah tetap difokuskan untuk mengungsi demi keselamatan.

“Kami melakukan sinkronisasi antara BNPB, pemerintah provinsi, dan Kabupaten Bandung Barat agar manajemen penanganan bencana berjalan efektif dan seluruh sektor bisa bekerja optimal, terutama dalam pengelolaan pengungsi,” katanya.

Herman memastikan kebutuhan dasar pengungsi, seperti logistik, dapur umum, layanan kesehatan, dan sanitasi, dalam kondisi tercukupi. Pemerintah telah menyiapkan dapur umum untuk ratusan pengungsi, toilet portabel, serta layanan kesehatan di lokasi pengungsian.

Ia juga menyebut sebagian warga terdampak di zona merah telah menerima bantuan dari Gubernur Jawa Barat berupa biaya kontrakan dan kebutuhan hidup sehari-hari.

“Sebagian warga sudah menerima bantuan sebesar Rp10 juta untuk biaya kontrak dan kebutuhan hidup. Kami imbau bantuan itu dimanfaatkan agar tidak terjadi penumpukan pengungsi di posko. Bagi yang belum menerima, tetap kami layani melalui dapur umum dan fasilitas di sini,” jelasnya.

0 Komentar