Jelang Mudik Lebaran 2026, Pengamat Soroti Risiko Sepeda Motor dan Lemahnya Angkutan Umum

Sejumlah pengendara sepeda motor melintas saat terjebak kemacetan di Jalan Dr Djunjunan, Kota Bandung, Sabtu (
Sejumlah pengendara sepeda motor melintas saat terjebak kemacetan di Jalan Dr Djunjunan, Kota Bandung, Sabtu (24/1). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pengamat transportasi memperkirakan arus Mudik Lebaran 2026 akan kembali menjadi puncak mobilitas manusia terbesar di Indonesia. Kondisi tersebut dinilai berbeda dengan arus Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 yang relatif lebih terkendali karena karakter perjalanan yang tidak sama.

Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno, mengatakan kelancaran lalu lintas pada masa Nataru tidak dapat dijadikan patokan untuk Mudik Lebaran 2026.

“Kelancaran di saat Nataru 2025/2026 belum tentu akan berlanjut di kegiatan mudik lebaran 2026. Mengingat perilaku perjalanan keduanya berbeda,” kata Djoko diterima Jabar Ekspres, Sabtu (24/1).

Baca Juga:Brother Chang Dibuka di Bandung, Perpaduan Cita Rasa Asia dan Kisah InspiratifBelanja di Ciwalk Makin Seru, Banyak Hadiah dan Promo Romantis

Menurut dia, Nataru didominasi perjalanan wisata dan bersifat opsional, sementara Mudik Lebaran memiliki dimensi kultural dan religius yang kuat.

“Nataru bersifat opsional dan lebih ke arah wisata, sedangkan Mudik Lebaran adalah kewajiban kultural dan religius yang sifatnya non-negosiasi bagi mayoritas penduduk,” ujarnya.

Djoko menjelaskan, pada musim mudik Lebaran, perjalanan jarak jauh menggunakan sepeda motor cenderung meningkat signifikan. Selain itu, jumlah orang yang bermobilitas juga lebih besar dibandingkan Nataru.

Hal ini diperkuat oleh pencairan tunjangan hari raya (THR) dan tradisi tahunan pulang kampung, meskipun daya beli masyarakat sedang tertekan.

“Prediksi mobilitas Mudik Lebaran 2026 di tengah kondisi ekonomi saat ini menunjukkan fenomena Mudik Tetap Jalan, Dompet Tetap Perhitungan,” kata Djoko.

Dia menilai tekanan ekonomi tidak akan menurunkan angka mudik secara drastis, tetapi memengaruhi pola belanja pemudik.

Dalam kondisi tersebut, lemahnya angkutan umum lokal di daerah menjadi persoalan utama yang berdampak langsung pada keselamatan.

Baca Juga:Ini 4 Jenis Olahraga Ringan, Tubuh Makin Sehat!Kolaborasi! UNINUS dan IDIP RI Gelar Webinar Internasional Pendidikan

Djoko menilai fenomena maraknya travel gelap mencerminkan kegagalan negara dalam menyediakan layanan transportasi umum yang memadai.

“Fenomena travel gelap adalah bukti kegagalan negara dalam menyediakan transportasi umum lokal,” ujarnya.

Dia menambahkan, pembenahan angkutan umum di daerah harus segera dimulai tanpa menunggu agenda jangka panjang. “Belajar dari Jakarta yang butuh 20 tahun untuk mencapai cakupan layanan 89,5 persen, pembenahan angkutan umum di daerah harus dimulai sekarang tanpa perlu menunggu Indonesia Emas 2045,” tambah Djoko.

0 Komentar