Bencana Silih Berganti, Pemkab Tasikmalaya Susun Strategi Hadapi Ancaman hingga 2030

Kalaksa BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Roni AKS saat menyampaikan pemaparan
Kalaksa BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Roni AKS saat menyampaikan pemaparan
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Bencana datang silih berganti di Kabupaten Tasikmalaya. Mulai dari tanah longsor yang memutus akses jalan, pergerakan tanah yang mengancam permukiman warga, cuaca ekstrem, hingga persoalan kekeringan dan krisis air bersih.

Situasi tersebut menjadi salah satu alasan Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memperkuat perencanaan penanggulangan bencana dengan menyusun Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2026-2030.

Penyusunan RPB itu dilakukan di Aula Hotel Dewi Asri, Singaparna, Jumat (4/9/2026), dengan Kalaksa BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Roni AKS, menjadi salah satu narasumber.

Baca Juga:Komandan Wingdik 600/Pembekalan Berganti, Bupati Tasikmalaya Tekankan Pentingnya Sinergi dengan TNI AUTembus 10 Juta Views! “Kasih Aba-Aba 2.0” Naykilla & Tenxi Viral di Shopee 9.9

Langkah ini dinilai penting karena ancaman bencana di Kabupaten Tasikmalaya bukan lagi persoalan yang bisa ditangani hanya ketika kejadian sudah berlangsung.

Data BPBD Kabupaten Tasikmalaya menunjukkan, sepanjang 1 Januari hingga 4 September 2026 tercatat 174 kejadian bencana. Rinciannya meliputi 89 tanah longsor, 49 cuaca ekstrem, 18 kebakaran lahan, 8 banjir, 6 gerakan tanah dan 4 kejadian lainnya. Taksiran kerugian dari kejadian-kejadian tersebut mencapai sekitar Rp2,448 miliar.

Rentetan kejadian itu terlihat nyata dalam beberapa bulan terakhir.

Pada Februari 2026, misalnya, longsor terjadi di sejumlah wilayah. Di Desa Kutawaringin, Kecamatan Salawu, longsor menutup akses jalan provinsi Tasikmalaya-Garut. Bahkan sebuah bus nyaris terperosok ke jurang setelah badan jalan tergerus longsoran.

Beberapa hari kemudian, longsor juga menutup total jalan penghubung Ciawi-Singaparna di Kampung Ciengang, Desa Kudadepa, Kecamatan Sukahening. BPBD menyebut longsor dipicu hujan berintensitas tinggi dan kondisi tanah yang labil.

Ancaman serupa terjadi di Kecamatan Karangjaya. Tebing longsor di Kampung Cibenteur, Desa Sirnajaya, menutup akses jalan yang menjadi penghubung Kabupaten Tasikmalaya dengan Ciamis dan Pangandaran.

Ancaman bahkan belum berhenti memasuki penghujung Agustus. Pergerakan tanah di Kampung Margamulya, Desa Cikondang, Kecamatan Cineam, membuat BPBD harus turun melakukan verifikasi dan mematangkan rencana relokasi warga ke lokasi yang lebih aman.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kebencanaan di Kabupaten Tasikmalaya memiliki karakter yang kompleks. Di satu sisi, hujan deras dapat memicu longsor, banjir dan cuaca ekstrem. Di sisi lain, pada periode kering masyarakat di sejumlah wilayah justru menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih.

0 Komentar