JABAR EKSPRES – Kepulan uap dari panci mungil di Padalarang belakangan menarik perhatian publik. Namun di balik cuanki mini itu, tersimpan kisah ketekunan seorang kreator yang menempuh jalan panjang sebelum akhirnya dikenal.
Di salah satu sudut kawasan Padalarang, tepatnya di seberang Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) sebuah gerobak berukuran kecil tampak dikerumuni warga. Panci mungil di atasnya mengepul pelan, menyebarkan aroma kuah yang akrab di lidah. Banyak orang berhenti, mengamati, lalu mengabadikan momen tersebut dengan kamera ponsel. Dari situ, perhatian publik perlahan tumbuh.
Lelaki di balik gerobak itu ialah Deden Mahfud Aliyudin (43), warga Desa Bojongkoneng, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat. Bagi sebagian orang, ia dikenal sebagai penjual cuanki mini. Namun bagi dirinya, lapak kecil tersebut merupakan bagian dari perjalanan panjang yang ia jalani sebagai kepala keluarga.
Baca Juga:DPRD KBB Fraksi PDI Perjuangan Kawal MBG Agar Berkualitas dan Tepat SasaranKritik PJU Berujung 'Undangan Klarifikasi', Warga Jabar Pertanyakan Ruang Aman Bersuara
“Orang sering lihatnya cuma sekarang rame. Padahal prosesnya panjang dan enggak selalu mulus,” ujar Deden saat ditemui di Padalarang, Jumat (23/1/2026).
Deden tinggal bersama istri dan anaknya di lingkungan perkampungan yang relatif tenang. Di dalam rumah sederhana itu, berbagai barang bekas tersusun rapi di beberapa sudut. Kayu, perabot lama, hingga potongan logam menjadi bagian dari kesehariannya.
“Banyak yang anggap ini rongsokan. Tapi buat saya, semua masih bisa dimanfaatkan,” katanya.
Ketertarikan Deden pada dunia kreatif telah tumbuh sejak lama. Sekitar 2017, ia mulai aktif di media sosial dan mencoba berbagai bentuk konten. Ia pernah membuat video sederhana, melakukan siaran langsung gim, hingga akhirnya menemukan ketertarikan pada pembuatan miniatur.
Di sebuah ruangan berukuran sekitar 2×3 meter, Deden membangun studio kecil. Dari tempat itulah lahir miniatur rumah tradisional dengan detail yang menyerupai kondisi nyata. Lemari tua ia ubah menjadi bangunan bersekat, lengkap dengan ruang tamu, dapur, hingga kamar mandi bergaya lama.
“Bikin miniatur itu awalnya buat nenangin pikiran. Kalau lagi capek atau bingung, saya masuk ke dunia kecil itu,” tuturnya.
Meski konsisten berkarya, hasil ekonomi tak selalu sejalan. Ada masa ketika Deden harus berhadapan dengan kenyataan hidup dan tanggung jawab keluarga. Ia mengaku pernah berada di titik ragu untuk melanjutkan jalur kreatif.
