“Seperti misalnya catnya sudah kusam, termasuk pengamanannya juga. Sama halnya soal pengamanannya nanti ada patroli keliling tiap bergantian sama Satpol PP,” ujarnya.
Ia menambahkan, sistem keamanan akan diperkuat dengan pemasangan kamera pengawas dan penerangan tambahan.
“Ini setelah nanti jadi ada CCTV, sekarang pun sudah ada tapi akan ditambah, dan untuk penerangan malam juga akan diberikan lampu,” imbuhnya.
Baca Juga:Kritik PJU Berujung 'Undangan Klarifikasi', Warga Jabar Pertanyakan Ruang Aman BersuaraPersib Hampir Full Team, Maung Bandung Siap Menggila di El Clasico Indonesia
Rapier yang dipasang di Bunderan Jati merupakan alutsista buatan Inggris tahun 1950 yang sudah tidak lagi beroperasi. Karena statusnya nonaktif, aset tersebut dimanfaatkan sebagai elemen estetika kota.
“Namanya Rapier, ini buatan Inggris tahun 50. Ini sudah tidak aktif, sudah tidak operasional jadi dipakamkan ke Pemerintah Kota untuk sebagai hiasan di sudut kota yang mempercantik kota Cimahi,” jelas Afandi.
Meski berada di ruang publik, koordinasi dengan satuan Artileri Pertahanan Udara tetap dilakukan karena status kepemilikan aset negara masih melekat.
“Pasti ini diserahkan ke Pemkot, tapi kita juga tetap koordinasi dengan Arhanud sebagai pemilik aset,” katanya.
Menurut Afandi, pemanfaatan alutsista nonoperasional ini sekaligus menjadi penanda kuat keterikatan Cimahi dengan sejarah militernya.
“Ya betul, itu jadi kita memanfaatkan aset-aset yang sudah tidak operasional lagi untuk sebagai mempercantik kota, yang menunjukkan bahwa Cimahi memang satu kesatuan dengan militer,” ujarnya menutup. (Mong)
