Contoh Teks Khutbah Jumat Isra Miraj: Perjuangan Baginda Nabi Meringankan Kewajiban Umat

Teks Khutbah Jumat
Teks khutbah Jumat tentang Isra Miraj. (Pixabay/Mohamed_hassan)
0 Komentar

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

Isra’ dan Mi’raj merupakan peristiwa yang bersejarah bagi umat Islam. Sebab padanya tersimpan memori beragam kejadian penuh hikmah yang menjelaskan eksistensi Tuhan.

Yakni ketika Dia mampu menggerakkan Nabi Muhammad Saw dari Masjidil Haram, Mekkah hingga Masjidil Aqsha, Yerusalem dan membawanya ke Sidratil Muntaha (haribaan Allah) dalam satu malam.

Perjalanan dari Al-Haram menuju Al-Aqsha, dalam peristiwa Isra’, apabila menggunakan mode transportasi di zaman tersebut, berupa unta, maka seharusnya Nabi SAW akan menghabiskan 40 hari. Sehingga hal ini diabadikan oleh Allah Swt dalam QS. Al-Isra’ ayat 1:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Baca Juga:Peta Kekuatan Ratchaburi FC, Lawan Persib di 16 Besar ACL Two25 Kode Redeem FC Mobile 15 Januari 2026, Ada Paket Pemain OVR Tinggi dan Ribuan Gems Gratis!

Artinya: “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnyaagar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Sedangkan kabar Mi’raj, perjalanan Nabi Muhammad Saw dari Bumi ke Sidratil Muntaha itu diabadikan dalam Al-Qur’an Surat An-Najm ayat 13-15:

وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰىۗ

Artinya: “Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu ketika) di Sidratulmuntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.”

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,

Pada moment Mi’raj ke Sidratil Muntaha ini, Nabi Muhammad SAW menerima ketetapan syariat Islam secara langsung dari Allah ta’ala. Yakni berupa shalat sebanyak lima puluh kali dalam sehari-semalam.

Namun di waktu tersebut, Nabi Saw bernegosiasi dengan Tuhan, sehingga disahkan kewajiban shalat lima kali sehari-semalam. Sebagaimana yang kita saksikan dan kerjakan selama ini.

Kisah penetapan shalat lima puluh waktu dalam sehari-semalam dan proses negosiasi ini, secara langsung dikisahkan Rasulullah SAW melalui haditsnya. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

قَالَ ابْنُ حَزْمٍ وَأَنَسُ بْنُ مَالِكٍ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: فَفَرَضَ اللّٰهُ عَلَى أُمَّتِي ‌خَمْسِينَ ‌صَلَاةً، فَرَجَعْتُ بِذَلِكَ، حَتَّى مَرَرْتُ عَلَى مُوسَى، فَقَالَ: مَا فَرَضَ اللّٰهُ لَكَ عَلَى أُمَّتِكَ؟ قُلْتُ: فَرَضَ ‌خَمْسِينَ ‌صَلَاةً، قَالَ: فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا تُطِيقُ ذَلِكَ، فَرَاجَعَنِي فَوَضَعَ شَطْرَهَا، فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى، قُلْتُ: وَضَعَ شَطْرَهَا، فَقَالَ: رَاجِعْ رَبَّكَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا تُطِيقُ، فَرَاجَعْتُ فَوَضَعَ شَطْرَهَا، فَرَجَعْتُ إِلَيْهِ، فَقَالَ ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا تُطِيقُ ذَلِكَ، فَرَاجَعْتُهُ، فَقَالَ: هِيَ خَمْسٌ، وَهِيَ خَمْسُونَ، لَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ، فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى، فَقَالَ: رَاجِعْ رَبَّكَ، فَقُلْتُ: اسْتَحْيَيْتُ مِنْ رَبِّي، ثُمَّ انْطَلَقَ بِي، حَتَّى انْتَهَى بِي إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى، وَغَشِيَهَا أَلْوَانٌ لَا أَدْرِي مَا هِيَ، ثُمَّ أُدْخِلْتُ الْجَنَّةَ، فَإِذَا فِيهَا حَبَايِلُ اللُّؤْلُؤِ، وَإِذَا تُرَابُهَا الْمِسْكُ

Artinya: “Ibnu Hazm dan Anas bin Malik berkata: Rasulullah bersabda, maka Allah mewajibkan atas umatku lima puluh shalat. Aku pun kembali dengan ketetapan itu, hingga aku melewati Nabi Musa. Ia bertanya, ‘Apa yang Allah wajibkan atas umatmu?’ Aku menjawab, ‘Allah mewajibkan lima puluh shalat.’ Nabi Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup melaksanakannya.’ Maka aku pun kembali (kepada Allah), lalu Allah mengurangi separuhnya. Aku kembali menemui Nabi Musa dan berkata, ‘Allah telah mengurangi separuhnya.’ Ia berkata lagi, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan sanggup.’Aku kembali lagi, lalu Allah mengurangi separuhnya. Aku kembali menemui Nabi Musa, lalu ia berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, karena umatmu tidak akan sanggup melaksanakannya.’ Maka aku kembali kepada-Nya, lalu Allah berfirman, ‘Shalat itu lima waktu, tetapi nilainya lima puluh. Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah.’ Aku kembali menemui Nabi Musa, lalu ia berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu.’ Namun aku menjawab, ‘Aku merasa malu kepada Tuhanku.’ Kemudian aku dibawa pergi hingga sampai ke Sidratul Muntaha, yang diselubungi oleh warna-warna yang aku sendiri tidak mengetahui hakikatnya. Kemudian aku dimasukkan ke dalam surga. Ternyata di dalamnya terdapat anyaman dari mutiara, dan tanahnya adalah kasturi.” (HR. Bukhari)

0 Komentar