JABAR EKSPRES – Di tengah laju modernisasi yang kian pesat, makna simbol-simbol budaya tradisional perlahan mulai tergerus.
Salah satunya adalah Kujang, yang kembali diangkat sebagai representasi karakter dan cara berpikir masyarakat Sunda.
Kujang tidak dimaknai sebagai simbol kekerasan, melainkan lambang kecerdasan, kebijaksanaan, dan kemampuan mengendalikan diri.
Baca Juga:Rekomendasi 6 Minuman, Jaga Gula Darah Tetap Stabil5 Rutinitas Sehat di Usia 50, Bantu Tetap Kuat hingga Usia 80 Tahun
Hal tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudhistira, yang menegaskan bahwa Kujang lebih dari sekadar senjata tradisional.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya @adhitiayudhistira, ia menjelaskan bahwa Kujang merefleksikan nilai kecerdasan, etika, serta komitmen moral masyarakat Sunda. Nilai-nilai tersebut dinilainya masih sangat relevan untuk diterapkan dalam kepemimpinan di era sekarang.
Adhitia pun mengawali penjelasannya dengan pendekatan filosofis yang sarat akan nilai-nilai budaya leluhur.
“Naon Kujang? Kujang teh senjata tradisional masyarakat Sunda yang digunakan tidak untuk berperang. Nah, Kujang itu adalah simbol masyarakat Sunda mengenai kecerdasan,” ujarnya dalam unggahan tersebut, Senin (12/1/26).
Ia menekankan bahwa dalam ajaran Sunda, akal dan kecerdasan menjadi senjata utama dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Kekerasan, menurutnya, bukan pilihan utama.
“Ajaran Sunda mengajarkan, berperang itu tidak selalu harus menggunakan otot, tapi otak. Jadi utamakanlah kecerdasan, utamakanlah intelektual kita. Dan orang Sunda itu pantang hukumnya untuk menyerang, kecuali diserang,” kata Adhitia.
Lebih lanjut, Adhitia menjelaskan filosofi tangan dalam pandangan Sunda. Tangan tidak hanya berfungsi untuk mengepal, tetapi juga untuk menyapa, mengusap, dan meredam konflik dengan cara yang lebih bijak.
Baca Juga:Lapas Banjar Darurat Dokter, Pemkot Siapkan Bantuan SementaraPemkab Bogor Wacanakan Ruislag Aset dengan Pemprov Jabar
“Gak boleh ah, naon harus pakai otot? Da urang mah boga panangan teh bisa dikuah-kieukeun (tangan kita bisa digerakkan seperti ini). Jadi kalau Bapak punya musuh, jangan ditantang gelut (berkelahi), digupayan ku katresna (dilambai dengan kasih sayang), bisa diusapan,” tuturnya.
Ia kemudian menegaskan kembali simbolisme tersebut melalui makna Kujang. Namun, filosofi Kujang tidak hanya berhenti pada kecerdasan dan pengendalian diri, melainkan juga menekankan nilai karakter yang lebih mendalam.
“Tah leungeun-leungeun mah (tangan-tangan ini) bisa dipeureupkeun (dikepalkan), bisa diusapkeun (diusapkan). Tah simbolna Kujang,” jelasnya.
Bagi Adhitia, inti filosofi Kujang terletak pada nilai moral yang terangkum dalam satu prinsip utama.
