JABAR EKSPRES – Film Roots – One Hundred Years Walter Spies in Bali akhirnya berlabuh ke Bandung. Film dokumenter fiksi karya sutradara Michael Schindhelm, sejak awal memang akan dikelilingkan ke Pulau Jawa setelah diputar keliling Bali . Program yang dirancang untuk memperluas apresisasi perjalanan sejarah seni dan perkembangan Bali, mendapat sambutan hangat di tiga venue pemutaran di Bandung.
Setidaknya ada tiga venue selama pemutaran di Bandung yaitu Humanika Art Space, Orbital Dago dan Nu Art Sculpture Park. Film yang menyampaikan bagaimana kisah hidup seniman kelahiran Moskow yang berkebangsaan Jerman dipertemukan dengan perkembangan Bali dalam kurun waktu seratus tahun dengan pandangan ingin membawa kenangan sekaligus mengkritisi kemajuan Bali dengan akibat yang terjadi.
Yudha Bantono selaku pemegang hak pemutaran Film Roots di Indonesia mengatakan bahwa melalui film Roots ingin mengajak pemirsa untuk menelusuri jejak hidup Walter Spies sejak kedatangan pertamanya di Bali pada 1925 hingga warisannya yang kompleks pada era modern sekarang ini.
Baca Juga:Bikers Honda Vario Jawa Barat Rasakan Sensasi Track Day di Sirkuit MandalikaPendapatan, EBITDA, dan Laba Bersih Normalisasi Telkom Tumbuh Kuat di Paruh Pertama 2026
Lebih lanjut menurut Yudha film ini menggabungkan elemen dokumenter dan fiksi untuk menggali peran Spies sebagai katalisator kreatif sekaligus figur kontroversial, menampilkan arsip, rekonstruksi, dan wawancara dengan tokoh akademisi seni, budayawan, seniman, LSM dan penggerak kepedulian lingkungan hidup.
“Film Roots tidak hanya menyorot kontribusi artistik Spies dari pelestarian tari hingga estetika visual, tetapi juga membuka diskursus tentang dinamika kuasa budaya, kolonialisme, dan dampak pariwisata,” tambah Yudha.
Sementara Andang Iskandar sebagai pendiri Humanika art space mengatakan melalui film Roots pemirsa diajak untuk mengenal Walter Spies dan peranannya bagi perkembangan seni di Bali, sekaligus mengajak kita belajar dari sosoknya yang sangat menginspirasi.
“Melalui kisah Walter Spies kita juga banyak belajar tentang bagaimana membangun ruang dialog imajiner dalam melihat Bali di masa lalu, sekarang dan masa depan. Film ini sangat menarik bukan saja gagasan yang dihadirkan, tapi kita benar-benar mengajak kita untuk melihat apa yang terjadi di sekitar kita, dan apa yang harus kita perbuat untuk masa depan yang lebih baik dari segala perubahan yang terjadi,” ujarnya.
