JABAR EKSPRES – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor mengimbau masyarakat agar tidak panik menyikapi informasi mengenai meningkatnya kasus Influenza A(H3N2) atau yang kerap disebut “super flu”.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Kota Bogor, Sri Nowo Retno, menjelaskan bahwa Influenza A(H3N2) merupakan virus influenza tipe A yang sudah lama dikenal. Meski belakangan dilaporkan mengalami peningkatan penyebaran, virus ini tidak bersifat mematikan.
“Secara ilmiah, virus yang disebut super flu ini adalah influenza tipe A H3N2 yang sudah ada sejak lama. Hanya saja terjadi perubahan menjadi subvarian H3N2 subclade K. Subclade ini pertama kali diidentifikasi oleh CDC Amerika Serikat pada Agustus 2025 dan tidak mematikan seperti Covid-19,” ujar Sri dalam keterangannya, Jumat (9/1/2026).
Baca Juga:Lapas Banjar Darurat Dokter, Pemkot Siapkan Bantuan SementaraPemkab Bogor Wacanakan Ruislag Aset dengan Pemprov Jabar
Sebagai langkah kewaspadaan, Dinkes Kota Bogor melakukan pemantauan rutin terhadap kasus influenza-like illness (ILI), yakni pasien dengan gejala mirip flu seperti demam, batuk, pilek, dan nyeri tenggorokan. Pemantauan dilakukan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR).
“Berdasarkan pemantauan mingguan hingga saat ini, belum ditemukan kasus Influenza A(H3N2) yang terkonfirmasi secara laboratorium di Kota Bogor,” ungkapnya.
Sri menjelaskan, data kasus ILI di Kota Bogor menunjukkan pola fluktuatif dan cenderung menurun di akhir tahun. Setelah sempat meningkat pada periode September hingga Oktober 2025, jumlah kasus kembali menurun pada Desember 2025.
“Pada awal Januari 2025 tercatat 102 kasus, meningkat menjadi sekitar 116 kasus pada September hingga Oktober, lalu menurun kembali di Desember,” katanya.
Meski tidak tergolong mematikan, Influenza A(H3N2) memiliki tingkat penularan yang cukup tinggi. Penularan dapat terjadi melalui droplet saat batuk, bersin, atau berbicara, aerosol, kontak langsung dengan cairan pernapasan penderita, serta melalui tangan atau benda yang terkontaminasi.
“Satu orang bisa menularkan virus ke dua hingga tiga orang di sekitarnya. Orang dewasa bahkan dapat menularkan virus sejak satu hari sebelum gejala muncul hingga lima hari setelahnya,” jelas Sri.
Gejala yang umumnya muncul meliputi demam tinggi, kelelahan, nyeri otot, pilek atau hidung tersumbat, menggigil, dan nyeri tenggorokan. Masa inkubasi virus berkisar satu hingga empat hari setelah paparan, dengan durasi sakit bervariasi tergantung tingkat keparahan.
