Social Butterfly

Social Butterfly
Pemerhati masalah sosial kemasyarakatan/Atjep Amri Wahyudi
0 Komentar

Oleh: Atjep Amri Wahyudi (107)

Libur panjang Natal 2025 yang lalu, penulis kedatangan tamu kejutan. Ia adalah keponakan (sebut saja “Putri”) yang tinggal di Sidoarjo. Penulis sebut kejutan karena sang tamu tidak memberitahu sebelumnya kalau akan datang. Ternyata mereka berlibur ke Bandung karena akan mencoba naik bis “sleeper” yakni bis yang kursinya didesain seperti ranjang. Jadinya sepanjang perjalanan penumpang “dipaksa” tidur terus, walaupun tidak mengantuk.

Hal yang berbeda jika mengendarai kereta api atau bis konvensional, kalau mengantuk atau pengen tidur maka posisi sandaran tinggal dimiringin, kok jadi kayak makelar karcis bis malam..he..he.

Topik opini kali ini -yang merupakan opini penutup 2025- bukan membahas moda transportasi yang terbilang baru dan unik tadi. Melainkan ujaran yang dilontarkan oleh suami Putri (sebut saja “Candra”). Candra menilai bahwa penulis mempunyai tipikal sebagai orang dengan karakter “social butterfly” (selanjutnya penulis singkat dengan SB).

Baca Juga:Menkeu Tambah Rp7,66 Triliun untuk THR dan Gaji ke-13 Guru ASN Daerah, Pemda Wajib Realisasikan 2025Ekonomi Digital Jadi Penopang Pajak Negara, Setoran Tembus Rp12,24 Triliun

Penulis sempat menanyakan hal itu kepadanya namun karena belum puas penulis browsing ke mbah Google. Selain itu penulis rancu dengan istilah lain yang mirip yakni “Butterfly Effect” (pernah penulis ulas di kolom ini, lihat Jabar Ekspres 12 Mei 2023 opini No. 59. Mbah Google menjelaskan bahwa SB adalah istilah untuk orang yang mudah bergaul, ramah, karismatik, aktif secara sosial, sering jadi pusat perhatian, pandai membuka jaringan dan bersosialiasi dengan berbagai macam orang, mirip kupu-kupu yang hinggap di banyak tempat. Pokoknya Google “memuji habis” orang dengan karakter ini.

Masih ada lagi…mereka (yang punya sifat SB tadi) cenderung ekstrovert, enerjik, menikmati berada di tengah keramaian dan selalu terbuka untuk berinteraksi sosial baru. Penulis berpikir kayak nya berlebihan kalau penulis sampai mendapat status SB, mengapa? Ya karena kreteria (positif) nya terlalu banyak. Artinya penulis tidak merasa seperti itu.

Kalaupun iya juga tidak sebanyak itu kreteria yang ada pada diri penulis. Rasanya hanya “orang suci” saja yang punya sifat positif sebanyak itu. Pembaca, sesaat lagi 2025 akan kita tinggalkan. Tentu setiap orang punya harapan masing-masing untuk diwujudkan (atau terwujud) di 2026. Setiap orang juga punya cara untuk belajar dari peristiwa yang dialami (atau bahkan tidak mau belajar) dari peritiwa pada 2025.

0 Komentar