Bandung Percepat Kurangi Ketergantungan TPA, Menteri LH Soroti Peran Warga

Petugas pemilahanan dan pengolah sampah (Gaslah) mengambil sampah organik dari rumah warga
Petugas pemilahanan dan pengolah sampah (Gaslah) mengambil sampah organik dari rumah warga sebagai salah satu upaya pengelolaan sampah secara mandiri di Kampung Liogenteng, Kota Bandung. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mempercepat upaya pengurangan ketergantungan terhadap tempat pemrosesan akhir (TPA), dengan memperkuat pengelolaan sampah di tingkat rukun warga (RW).

Langkah tersebut, mendapat sorotan Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq saat meninjau sejumlah titik pengolahan sampah berbasis masyarakat di Bandung, Sabtu (28/2).

Hanif mengunjungi RW 19 Kelurahan Antapani Tengah, dan RW 05 Kelurahan Dago, untuk melihat langsung pelaksanaan program Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah (Gaslah).

Baca Juga:Kekerasan terhadap Jurnalis Kembali Terjadi di Tasikmalaya, Diduga Dilakukan Ketua KDMP Ini Pesan H. Cucun Dalam Reses Anggota DPRD Fraksi PKB

Dia menilai, pendekatan penyelesaian dari hulu menjadi strategi krusial di tengah keterbatasan daya tampung TPA, termasuk kondisi TPA Sarimukti.

“Penyelesaian sampah tidak bisa dibebankan ke hilir ketika hilirnya tidak memiliki muara. Karena itu penyelesaian di tingkat RW menjadi sangat penting,” kata Hanif di lokasi.

Menurut dia, perubahan perilaku dan kemampuan warga mengelola sampah dari lingkungan tempat tinggal merupakan fondasi utama penyelesaian persoalan sampah perkotaan.

Dirinya menyebut, sejumlah RW di Bandung telah menunjukkan praktik baik yang patut diperluas.

Program Gaslah sendiri melibatkan warga dalam pemilahan dan pengolahan sampah secara mandiri. Pemkot mendorong model ini sebagai bagian dari pengelolaan sampah berbasis kewilayahan.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, penguatan program tersebut merupakan tindak lanjut koordinasi pemerintah pusat dan daerah, termasuk pembahasan dalam rapat koordinasi nasional penanganan sampah pada 25-26 Februari lalu.

Selain Gaslah, Pemkot Bandung mengintegrasikan program Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan) dengan Buruan Sae dan Dapur Dahsat dalam skema Program Sirkular.

Baca Juga:Emosi Memuncak di GBLA, Andrew Jung Tegaskan Niatnya Redam Situasi Demi PersibBSI Fest Ramadan 2026 Hadir di 9 Kota Besar, Promo Umrah Hemat sampai Rp4 Juta

Diketahui, integrasi itu ditujukan agar pengelolaan sampah tak berhenti pada pemilahan, melainkan terhubung dengan pemanfaatan kembali, terutama untuk sampah organik.

“Kami ingin penyelesaian di tingkat wilayah menjadi fondasi, sehingga kota tidak sepenuhnya bergantung pada pengangkutan ke TPA,” pungkasnya.

0 Komentar