Air Soft Gun dan Ilusi Kendali: Catatan Psikologi Forensik Soal Kejadian di Bandung

Air Soft Gun dan Ilusi Kendali: Catatan Psikologi Forensik Soal Kejadian di Bandung. 
Ilustrasi penembakan menggunakan air soft gun. Foto: Pexels
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kasus penembakan menggunakan air soft gun pria berjaket ojek online terhadap pedagang emas di Bandung tidak bisa dipandang sekadar tindak kriminal spontan. Dari sudut pandang psikologi forensik, peristiwa ini adalah potret berbahaya dari pertemuan antara tekanan psikologis, kegagalan kontrol diri dan akses terhadap alat yang memberi ilusi kekuasaan.

Alasan pelaku kehabisan uang setelah berlibur terdengar sederhana, bahkan banal. Namun justru di sanalah letak persoalannya.

Dalam psikologi forensik, kejahatan serius sering kali tidak lahir dari motif besar, melainkan dari akumulasi stres kecil yang meledak tanpa mekanisme penyaluran emosi yang sehat.

Baca Juga:Ide Modifikasi Ala Anak Muda Kekinian, Grand Filano Hybrid Siap Bikin Gaya Makin Anti MainstreamJanji Siapkan Rp2 Triliun untuk Pembiayaan Ekspor Furnitur, Purbaya: Bunganya 6 Persen

“Ketika individu berada dalam tekanan ekonomi dan emosional yang tinggi, kemampuan berpikir rasional melemah. Di titik itu, air soft gun berubah dari benda hobi menjadi alat pelampiasan impuls.” kata Psikolog Forensik, Billy Martasandy.

Secara teknis, air soft gun kerap diposisikan sebagai benda hobi atau olahraga. Namun dalam konteks psikologis, terutama bagi individu dengan kondisi mental tidak stabil, air soft gun berubah fungsi menjadi simbol dominasi dan alat kompensasi diri.

Air soft gun memberi ilusi kekuasaan instan. Bagi orang dengan kontrol emosi rendah, sensasi ‘mengendalikan situasi’ ini sangat berbahaya karena mendorong tindakan intimidatif tanpa pertimbangan moral.” ungkapnya.

Bentuknya yang menyerupai senjata api memberikan sensasi kontrol instan. Bagi individu yang sedang mengalami frustasi ekonomi, kelelahan mental, atau krisis harga diri, sensasi ini bisa sangat adiktif. Air soft gun menjadi medium untuk “mengambil kembali kendali” atas situasi hidup yang terasa runtuh.

Di titik ini, masalahnya bukan lagi soal benda, melainkan soal kondisi psikologis pemegangnya.

Dalam psikologi forensik dikenal istilah “impaired judgment under stress“, yakni kondisi ketika seseorang kehilangan kemampuan menimbang risiko akibat tekanan emosional yang tinggi.

Pelaku dalam kasus ini menunjukkan pola impulsivitas: keputusan cepat, minim pertimbangan konsekuensi, dan penggunaan ancaman sebagai solusi instan.

Baca Juga:Temukan Peredaran 72 Ton Bawang Bombai Impor Ilegal, Begini Respons MentanBukan Sekadar Touring, Yamaha Ajak Pemimpin Redaksi Eksplor Jateng Bareng MAXi dan Sport

Air soft gun mempercepat proses ini. Ia menurunkan ambang moral untuk melakukan intimidasi. Pelaku merasa “tidak benar-benar membunuh”, sehingga muncul rasionalisasi: ini hanya gertakan. Padahal, bagi korban, ancaman itu nyata, menakutkan, dan traumatis.

0 Komentar